Minggu, 01 Januari 2017

DIMANAKAH LETAK ALLAH

Yen ono sing takon nggone Gusti Allah nangdi???Gusti Allah kuwi ora butuh panggonan,lha wong kabeh panggonan kuwi ono nang njerone Gusti Allah...he..he..lha piye mbayangne bingung to??lek manuk njero kurungan,lha opo rumangsamu Gusti Allah iso dikurungi?Dimanakah letak Allah???ya tidak ada,lha wong letak itu ciptaan allah,masak allah berada di dalam letak...yen ono sing ngomong Gusti Allah kui neng kono,neng nduwur...kui mung kanggo mbayangne,sakjane yo ora ngono...Gusti Allah kuwi ono ning sak jeroning atimu,jeroning getihmu,jeroning sarafmu dsb...Gusti Allah kuwi meliputi seluruh keadaan

Kamis, 29 Desember 2016

TAHAJJUD CINTA

Maha Anggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan
Maha Agung ia yang mustahil menganugerahkan keburukan
Apakah yang menyelubungi kehidupan ini selain cahaya
Kegelapan hanyalah ketika taburan cahaya tak diterima
Kecuali kesucian tidaklah Tuhan berikan kepada kita
Kotoran adalah kesucian yang hakikatnya  tak dipelihara
Katakan kepadaku adakah neraka itu kufur dan durhaka
Sedang bagi keadilan hukum ia menyediakan dirinya
Ke mana pun memandang yang tampak ialah kebenaran
Kebatilan hanyalah kebenaran yang tak diberi ruang
Maha Anggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan
Suapi ia makanan agar tak lapar dan berwajah keburukan
Tuhan kekasihku tak mengajari apa pun kecuali cinta
Kebencian tak ada,kecuali cinta kau lukai hatinya...

Senin, 14 November 2016

" Sampai Di Singahsana Cinta illahi "

"Sampai Di Singgahsana Cinta illahi"

Wejangan ini bak sungai panjang mengalir
Tak memerlukan panduan pelayaran
Siapkan saja perahu
Berlayarlah sejauh-jauhnya

Singgah di sungai kalbu,akan menyingkap sungai-sungai yang lain
Di perairan segar beraroma mawar dan cemara
Burung-burung indah kicau berterbangan
Tapi ikutilah irama seruling yang tak kelihatan peniupnya
Kidung yang terus mengundangmu
Ke taman-taman wardah aneka warna

Jangan berhenti di tikungan putus-asa
Jika perahumu belum sampai ke tempat tujuan
Mentari harapan tetap menunggu
Dengan sambutan kemeriahan cahaya

Cepatlah turun ke sungai
Walaupun orang yang amat menyayangimu
menakut-nakutkan dirimu kepada deras gelombang
Usah biarkan dirimu kerdil dan tertiup
Hidup sekedar ikan-ikan peliharaan
dalam perangkap akuarium kaca berbau amis
Bertemankan bongkah-bongkah kerikil
Kau sewajarnya menjadi pembesar
Memiliki berhektar-hektar ladang tanaman
Selama kelopak mata zahirmu jadi penghalang
Justru tak dapat kau lihat seluruh alam hakikat
Pergilah ke seluruh pasar-pasar dunia
Tanyakan kepada para saudagar di kedai busana
Adakah busana-busana yang lebih mahal
Selain busana wujud yang tak berwarna ego diri

Tidakkah kau sadar apa yang sedang kau cari
Ketika singgah di tapak perkebunan hijau
Tentu saja kemanisan yang tersembunyi
dalam rahasia ranumnya buah-buahan
Jika benar itulah tujuanmu
Kau sebenarnya tengah mencari siapa dirimu
Jasadmu umpama pohon tebu tegak berdiri
keras dan angkuh
Remaslah ia sampai hancur lumat
Sampai mengalir serat roh yang manis
itulah gula sejati...
Jadilah seperti sang lebah,kecaplah kemanisan sepuas-puasnya
Selama berenang di lautan madu
Tak juga ia lemas atau sayapnya patah

Sekarang keluarlah dari waktu dan masuklah ke pasar
Kau harus rela menafkahkan dirimu
Tanpa mendambakan pertolongan orang lain
Jualkan apa saja kebendaanmu
Yang tak lagi diperlukan dalam hidupmu
Agar perjalananmu tidak menanggung beban
Dan hasilnya kaulaburkan saja ke negeri abadi
Tapi jangan kau jualkan jubah tambalan robekmu
Dengan harga termurah
Kelak kau akan ditertawakan oleh mereka yang terlalu jahil untuk mengerti sari hidup yang pernah kau lalui

Dunia adalah perkarangan penjara
Mentarinya berada di bawah kejap tanah gelap gulita
Keajaiban-keajaibannya tidak akan nampak berhasil
Andai kau tidak gigih mengusahakannya
Suburkanlah pemandangan hijau kebun dan ladang
Ditumbuhi buah-buahan dan bunga-bunga semerbak
Raihkan hari bahagia semata
Laksana memberi jamuan di majelis perkawinan
Semua tetamu adalah sahabat-sahabat kita
Ini bukanlah sekadar ilusi
Hakikatnya kita telah sampai ke titik evolusi

Suatu hari kau akan duduk bermenung
Mencela semua mimpi-mimpi buruk
Yang mengotorkan cermin kalbumu
Gara-gara terlena dalam kawah hangat pemikiran
Sedangkan di perkebunan rohani nan luas
Sarana buah-buahnya memberikan suntikan rasa
Lebih halus,dingin dan nyaman
Memasrahkan keajaiban
Tanpa menimbangkan akal dan dalil
Cinta itu mengeluarkan uap udara
Dari tanah dan air
Berkepaklah burung-burung cenderawasih
Hanya kala kau menghembuskan nafas
Dari sarang hati nan ikhlas

Makrifat adalah seperti Ibrahim
Yang merasakan pengalaman api secara benar
Bukan bertingkah tentang asap atau iklim pembakar
Aksara sufi
Tidak dipersuratkan di kertas-kertas kosong
Selain terpahat di gunung kalbu seputih salju
Usahlah menulis puisi karena memburu nama pena
Jadilah penyairNya yang sejati
Berdiamlah,biarkan Dia saja yang langsung berbicara
Melalui puisi-puisimu
Lidahmu itu adalah pintu gerbang istana
Kau pun tahu siapa penghuni di dalamnya
Tutuplah pintu gerbang itu serapat-rapatnya
Demi ada harta yang harus sentiasa dijaga
dan harta itu tak pernah ditinggalkan pemiliknya

Hati bukanlah sekedar dinding kaca
Yang menebarkan Nur illahi
Namun itulah pintu gerbang utama
Yang menghela terus ke alam-alam ghaib
Biasakanlah melihat cahaya semesta
Tidak hanya dari balik jendela kamar sunyimu
Lihatlah dengan cahaya di atas cahaya
Andai bingkai jendelamu akhirnya rapuh
Agar matamu tak silau terus memandang

Masjid hakiki ialah kesadaran rohanimu
Di sinilah dewan musollah untuk para ibadah
Tanpa mengira waktu
Mereka menyelami kurnia illahi
Di peringkat semua alam belum diciptakan
Mereka mengenali wujud
Sebelum jasad dilahirkan
Mereka melihat benih
Sebelum tanaman menghasilkan padi dan gandum
Mereka mencari manikam
Walau pun tiada samudera terbentang

Langit dan bumi
Terlalu sempit untuk menampung keberadaanNya
DIA hanya berdiam di singgahsana luas
Yang dipenuhi cinta di hati para pencintaNya
Carilah DIA di sana
DIA ingin kau mengenaliNya
Di majelis pertemuan yang begitu intim
Saat DIA berbagi rahasia bersama dirimu
Cinta telah mengiringmu ke mihrab cinta itu sendiri
Cinta menyodorkan manis untuk segala kepahitan
Cinta merubah timah menjadi emas
Cinta menyuburkan padi hijau setelah layu kekeringan
Cinta melamar sang raja menjadi rakyat jelata

Usah kau mengira
Terlalu mudah mencapai makrifat
Bahwa kau telah tahu siapa dirimu
Lepaskanlah citra dirimu itu
Selagi kau memandang wajahmu saja
yang berada di dalam bingkai cermin permainan
KAU tidak akan dapat melihat DIA
KAU bukanlah KAU
KAU adalah samudera nan luas
Di dalamnya ada berjuta KAU
sedang menyelam

Kata penyembah,DIA ada di depan
Padahal di sisi hakikatNya
Si penyembah sendiri tidak ada
Umpama kain warna celupan
Sekali tenggelam
Seluruh kain berubah tak berwarna
Penyembah ialah apa yang DIA gambarkan
Seperti melukis mawar di kebun mawar
Begitulah Dia menzahirkan cinta
Bukan sebagai sangkar perhambaan
Semua pintu terbuka
Dari kelopak-kelopak mawar
DIA adalah DIA yang menceritakan ayat-ayat mawarNya
DI adalah DIA yang mencari CintaNya sendiri
DIA adalah DIA yang jatuh cinta dengan keindahan DiriNya...

by:Agoeng Deworuci,Malem Minggu Kliwon 05/11/2016

Rabu, 10 Agustus 2016

MAUJUD

" MAUJUD "

Manusia hanyalah metafora
Untuk menyatakan kewujudanNya
Maka manusialah metafora paling lengkap
sesuai dan sempurna
Berbanding makhluk-makhluk lain di alam ini
Baik dari sudut tubuh kegelapan dan batiniah cahaya
Sebagai wadah untuk menerima tajalli(penampakan)Tuhan
Dari awal dan akhir
Meskipun manusia adalah penampakan Tuhan
Dari sudut pendzahiranNya secara kesuluruhan
Namun pada hakikatnya manusia itu tiada
dan sekadar bingkai khayali
Untuk mencitrakan maujud dirinya itu bersandarkan kepada wujud Allah
Maujud itu disangkakan ada karena penampakan bentuk imaji
Yang boleh disentuh serta berpotensi
Seolah-olah berdirinya ia dengan sendirinya
Namun apabila dihancurkan imaji tersebut
Maka pembentukannya itu akan musnah dan kembali semula kepada bekas bahan asalnya
Ibarat bentuk kursi setelah dileburkan
Lalu tampaklah kayu dan lenyaplah kursi

Apabila bekas daripada maujud itu akhirnya tersingkap bukan wujud sejati
bersifat baru dan binasa
Tiadalah maujud kecuali Allah jua
Umpama bayangan wajah
Yang tampak di dalam cermin
Dia tapi bukan Dia,bukan Dia tapi Dia

Begitulah tatkala penurunan tajalli(penampakan)Tuhan
Dari martabat Ahadiyah
Sampai ke martabat Alam Mitsal
Ketika Dia berhasrat melihat DiriNya di luar diri
Dan rindu untuk dikenal
Alam Mitsal persis cermin
Memantulkan hakikat tajalli(penampakan)Tuhan
Yang terbendung di dalam martabat Wahidiyah
Sudah pun ada secara rinci
Tetapi masih bersifat batin
Tanpa rupa...
Tanpa bentuk...
Tanpa warna...
Tanpa nama...itulah Hakikat Insan
Apa yang ingin ditajallikan Tuhan
Selain dari DiriNya itu
Adalah penampakan DiriNya jua
Dari kesan tindakan WujudNya
Namun tidak ada sesuatu pun yang serupa denganNya
Atas perintahNya ‘Kun’ dan diperintah ‘Faya kun’
Sampailah turun ke martabat Alam Arwah
Menyingkap tabir Alam Mitsal
Di sinilah bentuk citra itu sudah pun terperi

Di dalam cermin
Merupakan perbendaharaan
Yang tidak lagi tersembunyi
Namun masih belum nyata
Belum lagi bernama dan bersifat

Alam Arwah inilah tabir Tuhan yang terakhir
Tatkala Dia yang menyingkap tabirNya sendiri
Dialah Maha Benar
Bahwa Dia itulah hakikat segala sesuatu
Tiada yang bersertaNya...
Tiada sebelumNya...
Tiada sesudahNya...
Tiada di dalamNya...
Melainkan Dia juga...
Sepertimana firmanNya,“Bukankah Aku Tuhanmu?”
Maka dijawab oleh roh-roh penyaksi,“Bukan!Engkaulah Tuhan kami!”

Namun setelah penurunan tajalli(penampakan) ke alam paling luar
Sampai ke peringkat debu-debu atom
Yang bernama Alam Ajsam
Maka hijab itupun tertutup kembali dengan hijab-hijab
Unsur air...
Unsur api...
Unsur angin...
Unsur tanah...
Hakikat wujud Tuhan pun tidak lagi terpandang
Pada sesuatu dan luaran bentuk manusia itu
Kecuali kepada manusia
Yang dapat mengenalNya
Dengan pengenalan haqiqi
Di dalam diri sejati
Manusia yang mengenalNya itulah bergelar
Manusia khalifah Insan al-Kamil

Dia menjadikan Adam itu menurut rupaNya
Bukanlah Zat Yang Mutlak itu berjisim atau bertukar kepada bentuk pembaharuan
Sedangkan sediaNya bersifat Maha Suci dan Qadim
Dia tidak menyerupai sesuatu pun dari makhlukNya
WajahNya tak mungkin diketahui atau tercapai dengan penglihatan mata kasar
Dia pada martabat Ahadiyah
Tiada pengetahuan yang sampai kepada ZatNya
Tiada sesuatu yang boleh menjangkauNya
Melainkan Dia juga yang mengenal dan sampai kepada DiriNya sendiri
WajahNya adalah semata-mata Kunhi Zat tanpa ada yang lain bersertaNya
Maha Esa dan tidak membutuhkan kepada sifat
Dia tetap tanzih dan tidak pernah berubah kepada tasybih
Meskipun Dia dapat dikenali melalui tasybih
Dia yang sekarang adalah Dia yang dahulu
dengan keEsaan
Keagungan dan kesempurnaanNya
Namun pula jika Dia hanya kekal di dalam tanzihnya
Bagaimanakah pula Dia dapat dikenal tanpa makhlukNya?
Dan untuk tujuan apakah
Dia menjadikan alam dan manusia khalifah?
Dia adalah Perbendaharaan Yang Tersembunyi
Dia rindu untuk dikenali
Maka Dia jadikan makhluk supaya ZatNya dikenali
Maka dengan sendirinya
tasybih itu tak mungkin dapat dinafikan atau dipisahkan dari tanzih

Ketika Dia ingin mentajallikan
Bahwasanya Dia melihat dengan ZatNya
Mendengar dengan ZatNya
Berkata-kata dengan ZatNya
Beriradat dengan ZatNya
Berkodrat dengan ZatNya
Mengetahui dengan ZatNya
Hidup dengan ZatNya
Maka Dia pun memaknawiyahkan sifat-sifat ma'aniNya
Padahal itu tiada lain adalah ZatNya jua
Dan tidak menambahkan kepada Zat
Sifat-sifat ma'ani itu adalah HAYAT/HIDUP
Qudrat...
Iradat...
Sama’...
Ilmu...
Bashar...
Kalam...
Maka dengan ke semua sifat ma'ani itu
DiterjemahkanNya ke Alam Mitsal dan mendzahirkan pula suatu citra
Yang tak berbentuk dan bernama
tetapi qadim sebagai penampakan WajahNya
Kemudian disalinkan ke Alam Jasad
Menjadi citra wajah Adam
NisbahNya ini dirumuskan sebagai ‘Titik’
‘Titik” tidak ada awalan dan akhiran...
Tidak ada perbandingan...
Tidak ada persamaan...
Tidak dapat diketahui...
Tidak dapat dirupakan...
Tidak ada warna...
Tidak ada nama...
kecuali semata-mata adalah ‘Titik’...

Dari ‘Titik menzahirkan ‘Alif’
Sebagai Wujud hakikat huruf-huruf lainnya
Jika kau dapat melihat hakikat Alif itu
Ada dalam persamaan semua huruf
Maka terbukalah tabir rahsia huruf-huruf itu

Tidak lain adalah Alif jua
Baik di luar atau di dalam
Hakikatnya Alif adalah ‘Titik’
Dalam pandangan Yang Satu

Bashar menjadi dua mata Adam
Sama’ menjadi dua telinga Adam
Kalam menjadi lidah Adam
Hayat menjadi hidung Adam
Iradat menjadi dahi Adam
Ilmu menjadi ubun-ubun Adam
Qudrat menjadi otak Adam

Manusia itulah nyawa alam semesta ini
Alam semesta inilah tubuhnya manusia
Cobalah kaubayangkan
Jika alam semesta ini tanpa manusia
Sudah pastilah penciptaan alam semesta ini akan merupakan hasil karya Tuhan
Seumpama patung yang sia-sia
Jika kaulihat manusia
Sebagai makhluk semata-mata
Tidak kaulihat Dia yang nyata

“RahsiaKu Rahsia Insan...
Rahsia Insan RahsiaKu!”...
Insan itu ZahirNya...
Dialah Yang Batin...
seInsan-Insan itu adalah Dia Yang Maha Meliputi...................

Agoeng Deworuci,Malem Kemis Kliwon 08/06/2016

Sabtu, 23 Juli 2016

"dialah NAFASKU"

Dialah NafasKu..............
Yang Kuhembuskan
Melalui Ubun-Ubun Adam
Dia tidak di timur tidak pula di barat
Dia turun ke bawah tidak terbatas
Dia naik ke atas tidak terhingga
Dia terhenti di tengah-tengah
Pada titik bernama Qalbu
Di tengah-tengah
Dia nampak Yang Satu
Pada yang banyak
Nampak yang banyak
Pada Yang Satu
Dalam Yang Satu
Dia nampak hanya Yang Satu

Dialah rohKu.............
Dialah khalifah seluruh makhluk
Dialah yang mewakili nama-nama besar
di alam kabir dan di alam saghir
Dialah yang merupakan bukti penampakan DzatKu
Dialah yang dibatasi dengan tujuh puluh ribu tabir
Antara gelap dan terang
Dialah yang berada di bawah naungan urusanKu
Dialah yang bergelar Nur
Dalam penampakannya di alam semesta
Dialah kitab yang terang dan nyata
Dialah perbendaharaan yang segala sesuatu
Terhimpun di dalamnya
Dialah yang tidak karenanya tidak akan tercipta langit dan bumi
Dialah tempat penzahiran segala ilmu uluhiyyah
Dialah rahasia hakikatKu dari semua penglihatan kaum
Dialah yang mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya
Dialah pertemuan dua lautan
Antara kemakhlukan dan ketuhanan
Dialah NAFASKU..........................

"DIALAH NAFASKU"
Malem Minggu Kliwon,23/07/2016

Sabtu, 16 Juli 2016

MAHAKARYA "LAILAHA ILLA ANA"

"Maha Karya Lailaha Illa Ana"

Dalam permainan bahasa
Ada permainan kata-kata

Dalam permainan kata-kata
Ada permainan filsafat

Dalam permainan filsafat
Ada permainan metafisik

Dalam permainan metafisik
Ada permainan mistik

Dalam permainan mistik
Ada permainan makna

Dalam permainan makna
Ada permainan rahasia

Dalam permainan rahasia
Ada  permainan Tuhan

Dalam  permainan Tuhan
Tak ada Tuhan

Dalam tak ada Tuhan
Ada Kekosongan

Dalam Kekosongan
Ada Pribadi

Dalam Pribadi
Ada Maha Esa

Dalam Maha Esa
Ada AKU

Lailaha illa Ana
Tiada wujudKU melainkan AKU.............

Agoeng Deworuci,MALEM JUM'AT LEGI 14/07/2016

BEDA NAMA SATU MAKNA

AL - HALLAJ mengungkapkanNYA...ANA AL HAQ

ABU YAZID mengungkapkanNYA...SUBHANI MA ‘ADHAMA SYA'NI

AL - GHAZALI mengungkapkanNYA...FANA FILLAH BAQA BILLAH

JALALLUDIN AL RUMI mengungkapkanNYA...CINTA SEJATI

IBNU AL ARABI mengungkapkanNYA...WAHDAT AL-WUJUD

ABDUL QADIR AL - JAILANI mengungkapkanNYA...SIRRUL ASRAR

ABDUL KARIM AL - JILLI mengungkapkanNYA...INSAN AL - KAMIL

AHMAD SIRHINDI mengungkapkanNYA...WAHDAT AL - SYUHUD

FADULLAH BURHANPURI
mengungkapkanNYA MARTABAT TUJUH

HAMZAH FANSURI mengungkapkanNYA...WUJUDIYYAH

SYECH SITI DJENAR mengungkapkanNYA...MANUNGGALING KAWULO GUSTI

R.M NGABEHI RANGGAWARSITA mengungkapkanNYA...WIRID HIDAYAT DJATI

" BEDA NAMA SATU MAKNA "
Agoeng Deworuci,Malem Sabtu Pahing 16/07/2016