Jumat, 27 Februari 2015

SEDULUR SONGO

SEDULUR SONGO

Saudara sembilan ( Sedulur Songo ) kenyataannya tidaklah berada terus menerus dibagian badan Jasad Kasar ini.Halusnya berujud cahaya yang mempunyai warna sendiri-sendiri.
Kodratullah-Oranye,Wujudullah-Hitam,Sipatullah-Kuning,Datullah-Putih,Sirullah-Merah,Pangaribawa-Biru,Prabawa-Kuning Emas,Kamayan-Putih Terang Kemilau.

Semua saudara terjadi/tercipta bersamaan dengan turunnya Roh
Suci didalam rahim ibu.Kamayan,Prabawa dan Pangaribawa ketiga-tiganya menjadi satu merupakan sang “aku” dari manusia (aku disini bukan “pribadi”),yaitu kekuasaan yang diberikan oleh Allah,untuk mengendalikan kelima saudara lainnya (sirullah,datullah,sipatullah,wujudullah dan kodratullah).Jadi ketiganya menjadi satu angan-angan yang bersifat tiga,punya watak dan
kekuasaan sendiri-sendiri.Kekuasaan tertinggi adalah Kamayan,kemudian Prabawa,baru Pangaribawa.Dalam bertindak ketiga-tiganya selalu berbarengan dan membantu/menjiwai/memberi kekuatan tindakan saudara-saudara lainnya.Walaupun
menerima kuasa dari Allah,namun tri-tunggal Kamayan-Prabawa-Pangaribawa tidaklah mampu menjamin kesejahteraan jiwa.Yang dapat menjamin kesejahteraan dan keharmonisan jiwa manusia hanyalah Tri Tunggal Mahasuci,Allah,Ingsun dan Roh Suci.

Berikut uraian/penjelasan mengenai Sedulur Songo ( Saudara
Sembilan ).

1.Kodratullah,terjadi dari bayangan Rahsa Jati,wadagnya berada pada dikemaluan.Berkecenderungan negatif
kearah nafsu sahwat.Apabila dapat dikuasai maka akan dapat diarahkan menjadi dasar kekuatan akan
keindahan.

2.Wujudullah,yang terjadi dari anasir tanah/bumi wadagnya ada di daging-kulit.Berkecenderungan serakah,tamak,mau menang sendiri,curang,lamban,malas,serta menjauhkan dari kebaikan.Namun kalau dapat dikuasai bisa menjadi dasar kekuatan jasmani dan
ketabahan serta tahan penderitaan.

3.Sirullah,yang terjadi dari anasir api,wadagnya berada didalam darah.Wataknya berangasan,amarah,tidak sabaran dan gelap mata.Kalau bisa dikendalikan
menjadi kemauan,tekad dan ketekunan bahkan menjadi jalan bagi saudara-saudara lainnya dalam mencapai tujuan.Tanpa bantuan dan daya Sirullah maka tiada dapat tercapai.

4.Sifatullah,terjadi dari anasir air,wadagnya berada didalam tulang dan sumsum.Kekuatannya terasakan
sebagai kehendak,yang menyebabkan adanya keinginan-keinginan,atau cita-cita.Dapat menjadi sarana Karsa Allah.Akan menjadi negatif apabila tidak dikendalikan,kearah kegemaran-kegemaran serta kesenangan-
kesenangan yang tidak baik.

5.Dzatullah,terjadi dari anasir hawa,berada di napas.Mempunyai watak jernih,belas kasih,bekti,cenderung akan hal-hal kesucian.Kekuatannya sanggup
menimbulkan kesanggupan untuk berkorban atas dasar kasih,mendorong untuk tercapainya ketenteraman dalam hidup dengan sesama.Kekuatannya menimbulkan
kesanggupan untuk berbakti,penyerahan total
manembah kepada Panuntun Sejati/Guru Sejati untuk makin mendekat dan bersatu dengan Allah.

6.Pangaribawa,terjadi dari bayangan Roh Suci,wadagnya berujud pusar dan halusnya ada di angan-angan berupa
“cipta”.Merupakan kekuatan paling bawah dari jiwa manusia.Pangaribawa memberi kekuatan kepada fungsi pancaindera.Maka,kekuatan ini seyogyanya diarahkan untuk menangkap hal-hal yang positif sesuai ajaran Guru Sejati untuk keutamaan hidup.

7.Prabawa,terjadi dari bayangan Ingsun/Guru Sejati,halusnya berada di angan-angan berupa “nalar”.Daya
kekuatannya melebihi Pangaribawa.Prabawa memberi
kemampuan untuk mengolah semua hal yang ditangkap oleh Pangaribawa.Prabawa kemudian mendorong akan timbulnya pertanyaan apa,kenapa,bagaimana,dsb.Untuk menemukan jawaban yang tepat.Seyogyanya Prabawa haruslah didampingi erat oleh Datullah yang
mendorong kearah kejujuran dan cinta kebenaran agar tidak terjerumus kerah pembenaran-pembenaran tindakan yang salah.

8.Kamayan,merupakan bayangan dari Allah ta’ala/Pengeran/Gusti Yang Maha Agung,wadagnya wujud jantung dan halusnya berada di angan-angan berupa “akal budi”.Kekuatannya yang disebut Kamayan atau Maya adalah kekuatan tertinggi dari angan-angan.Kamayan memberi kemampuan untuk memperoleh
pengertian-pengertian yang luas dan mendalam mengenai hal-hal yang ditangkap oleh Pangaribawa dan
Prabawa,sehingga dapat diambil intinya dan kesimpulannya.

9.Bayu Sejati,terjadi dari daya kekuatan kuasa Allah,wadagnya di tulang ekor sampai sumsum tulang
belakang.Mempunyai daya kekuatan luar biasa.Energi kundalini adalah salah satu daya kekuatan yang
bersumber dari Bayu Sejati.

Kesembilan saudara; Bayu Sejati,Sirullah,Datullah,Sifatullah,Wujudullah,Kodratullah,Pangaribawa,Prabawa dan Kamayan,berada dalam badan halusan manusia,yang harus dapat dikuasai agar saling bekerja sama dengan baik,agar tercapailah keadaan jiwa yang seimbang dan harmonis untuk meningkatkan keutamaan/budi luhur.Sifat angan-angan (Pangaribawa,Prabawa dan Kamayan) yang cenderung dapat menghalangi merasuknya pancaran sinar Illahi adalah karena sifat kedaulatannya,yang menimbulkan “aku” manusia.Aku nya manusia kemudian dapat dihinggapi oleh rasa perasaan kuasa.Inilah yang dapat menyebabkan seolah Nur Hidup merupakan cahaya yang bagaikan bayang-bayang yang tidak jelas,samar,karena
tertutup oleh angan-angan.Wujudullah dan Kodratullah,bisa sempurna bertindak kalau mendapat daya kekuatan dari Sirullah.Sirullah dapat bertindak dengan baik apabila memperoleh daya kekuatan Sipatullah.Sipatullah yang mengkoordinasikan agar Sirullah dan
Wujudullah serta Kodratullah membantu
kemauannya.Datullah lah yang seharusnya dapat menerangi akan tindakan-tindakan saudara-saudara lainnya.Jadi Sipatullah harus mau menerima pepadang/penerangan dari Datullah,yang kemudian memberi daya kepada Datullah untuk dapat menerangi ketiga saudara lainnya yaitu Sirullah,Wujudullah dan
Kodratullah agar berjalan didalam kebenaran dan kebaikan.Maka demikian pula Sipatullah tanpa bekerja sama dengan Datullah,akan menjadi budak Sirullah,Wujudullah dan Kodratullah,yang cenderung diajak berjalan kearah ketidak baikan/hal-hal negatif.Semua hal tersebut,agar dapat terlaksana menjadi tindakan,apabila dibantu/dijiwai oleh ketiga saudara Pangaribawa,Prabawa dan Kamayan.Jadi tiga saudara inilah yang seharusnya menuntun dan memberi jalan kepada Datullah agar menjadi kuat
dan menggandeng Sipatullah.Angan-angan menjadi terang apabila mendukung Datullah agar selalu membawa kearah keinginan dan tindakan yang luhur dan membangun watak yang utama.Kalau nafsu-nafsu (kelima saudara) dapat
dikendalikan/dikuasai,maka angan-angan atau ketiga saudara (Pangaribawa,Prabawa dan Kamayan) menjadi lebih mudah dikendalikan,dikumpulkan menjadi satu didalam hati sanubari,janganlah sampai berhubungan dengan otak.Hal ini sangat diperlukan dalam upaya untuk dapat
menerima “anugerah” tuntunan dari Ingsun/Guru Sejati.Bayu Sejati lah yang pada akhirnya direngkuh untuk memberi daya lebih untuk tujuan-tujuan spiritual
maupun hal-hal kebaikan lainnya yang “lebih jauh”.Maka apabila kesembilan saudara tadi sudah dapat dikuasai,dikendalikan dan patuh kepada aku sejati ya Roh Suci nya manusia,Wujudullah menjadi dasar kekuatan,Sirullah tidak sabar akan kebaikan,Sipatullah menjadi lantaran keinginan dan kehendak,Datullah menjadi sempurna kesuciannya dan
panembahnya kepada Ingsun/Guru Sejati/Rasul Sejati dan Allah.Dimana Pangaribawa,Prabawa dan Kamayan menyatu menjadi satu cipta luhur atau akal budi yang jernih,didalam ketenangan/ketenteraman yang eneng.Dan,terwujudlah jalan rahayu kearah
kemulyaan langgeng,Alam Sejati.Dalam kenyataan hidup keseharian sampai hayat masih dikandung badan,secara terus menerus ngracut busana kamanungsan adalah merupakan PR dan tugas yang
harus dilaksanakan secara disiplin terus-menerus oleh kita.Maka,sudah barang tentu tugas ini sangatlah berat.........

Rabu, 25 Februari 2015

NGURIP URIPI AGEMING ADJI (AGAMA)

"NGURIP URIPI AGEMING ADJI(AGAMA)"

Kang wus waspada ing patrap,mangayut ayat winasis,wasana wosing jiwangga,melok tanpa aling-aling,kang ngalingi kaliling,wenganing rasa tumlawung,keksi saliring jaman,angelayut tanpa tepi,yeku aran tapa tapaking Hyang Sukma.
( Dia yang sudah mengetahui jalan,menghayati tanda-tanda kebijaksanaan,menjangkau inti pribadi,telah bisa menyaksikan
secara nyata,yang menghalangi telah menyingkir,benar-benar memasuki alam sunyi,terlihatlah segala keadaan,terlihat tanpa batas,itulah yang dinamakan bertemu dengan jejak Tuhan )

Mengkono janma utama,tuman tumanem ing sepi,ing saben dina rikala mangsa,mangsah amamasuh budi,lahire den tetepi,ing reh kasatriyanipun,susilo anoraga,wignya men tyasing sasami,yeku aran wong barek berag agama.
( Seperti itulah manusia utama,senang tenggelam dalam kesunyian,setiap hari ketika dia menemukan kesempatan,mempertajam dan
membersihkan jiwa,setia menjalankan peran sebagai kesatria,bertindak baik,rendah hati,pandai bergaul dan membuat hati orang terpikat,itulah yang disebut orang-orang yang menghayati agama )

Agama adalah “ ageming aji “,pegangan yang baik...ajaran yang harus dipegang dengan kukuh dan dihayati agar muncul
kebaikan.Agama ibarat obor...ia dipegang…dijadikan penerang,agar kehidupan kita di muka bumi ini tetap berada di jalan setapak kebenaran,tidak terperosok apalagi tersesat,dan
ujungnya…kita bisa kembali kepada asal muasal sekaligus tujuan akhir kita,sangkan paraning dumadi,Dialah Hyang Tunggal,Hyang Wisesa,yang disebut manusia dengan berbagai nama:
Allah,Tuhan,God,Elli,dan semacamnya.

Berbicara tentang kebaikan,kita mesti berbicara tentang kebaikan pada tiga dimensi: dimensi pribadi,dimensi sosial,dan dimensi semesta.Beragama yang baik,indikatornya adalah ketika ketiga dimensi yang melingkupi hidup kita itu selalu dalam keadaan baik.Baik pada dimensi pribadi,adalah bahwa kita
menemukan kebahagiaan sejati,kita bisa merasakan kedamaian yang tak bercampur dengan kegelisahan,kita masuk ke dalam alam keselamatan yang tak lagi dikotori musibah.Sementara baik pada dimensi sosial,makanya kita dipersepsi baik oleh orang di sekitar kita,karena kita selalu memberikan kebahagiaan,ketenangan,rasa aman,dan keselamatan kepada mereka.Dan terakhir,baik pada dimensi semesta…kita,sebagai jagad alit,menjadi selaras dengan jagad ageng.Kita bisa merasa terhubung dengan tanah,udara,air,api…kita bisa merasa satu
dengan tetumbuhan,hewan,matahari,bulan,semesta yang tak terbatas…yang wujud nyatanya,alam ini selamat dari semua
kejahatan kita.Sudahkah agama membawa kebaikan bagi kita? Harus kita
sendiri yang menentukannya secara jujur.Kadang ada orang yang tahu apakah kita sudah beragama dengan baik atau belum...merekalah kaum yang waskito…tapi walau mereka tahu,mereka tak bisa mengubah nasib kita.Kita sendirilah yang harus mengubah keadaan,perjalanan hidup kita.Dalam kenyataan hidup saat ini,di nusantara yang kita cintai ini,terlihat apa yang disebut dengan peningkatan gairah beragama.Di mana-mana orang menunjukkan semangat untuk kembali
pada agama.Sayang sekali...pada banyak kasus...kebangkitan itu hanya pada tataran artifisial.Orang ternyata baru kembali pada kulit agama…mereka seperti anak-anak di hari lebaran yang bangga ketika mengenakan baju baru tanpa peduli akan makna kembali pada
fitrah dan kesucian.Seringkali...hakikat agama itu sendiri tak terlihat…Banyak orang yang ternyata bajunya saja yang sudah baju agama,tetapi dalamnya,lapisan jiwanya...belum diterangi oleh agama.Gampang sekali mengamati fenomena di atas.Kita bisa melihat orang atau kelompok yang paling merasa beragama dan paling merasa dekat Tuhan…di kalangan mereka agama diteriakkan,Tuhan juga diteriakkan…tapi hasilnya justru orang merasa tak
nyaman,merasa tak aman,dan jauh dari kedamaian.Tanda paling jelas untuk melihat kualitas keberagamaan kita adalah dengan melihat bagaimana respons alam ini.Saat ini,mengiringi bangkitnya semangat keagamaan,ternyata alam malah menjadi tak bersahabat.Bahkan alam ini,bumi pertiwi malah berduka…jagade gonjang ganjing..!Jelas ada yang keliru..!Kebaikan pada berbagai dimensinya tidak muncul ketika saat ini orang seperti telah kembali pada agama.Mengapa? Karena sesungguhnya mereka tidak kembali pada hakikat agama sebagai agama ageming aji dan aturan yang mencegah manusia dan semesta ini terperosok pada ketidakteraturan.Agama yang hanya dipahami sebagai identitas budaya,yang membuat seseorang merasa berbeda dari orang atau kelompok lainnya…Itu jelas hanya akan menciptakan
keburukan pada dimensi sosial sekaligus membuat kita terputus hubungan dengan semesta.Apalagi saat ini kita juga bisa
melihat banyak pihak mengulang pola yang sudah lama mewarnai Nusantara maupun berbagai belahan dunia:memanipulasi agama,baik sengaja maupun tak sengaja.Ketika agama dimanipulasi,agama dijadikan topeng untuk ambisi,hasrat,dan obsesi rendah.Jelas,pada tataran sosial yang
terjadi adalah kekacauan,pada tataran alam yang muncul adalah bencana.Jika kita mau agama kita memberikan kebaikan yang utuh...maka apa yang dituliskan dalam Serat Wedatama di atas layak jadi pegangan.Kita mulai belajar menjalani agama sebagai petunjuk
untuk memasuki alam kesunyian,alam pertemuan dengan Dzat Yang Maha Misteri.Langkah praktisnya adalah menekankan aspek agama sebagai petunjuk tentang perilaku yang baik:agama sebagai pedoman akhlakul karimah ( budi pekerti luhur ).Berbagai ritual agama,ditempatkan pada konteks riyadhoh,pelatihan,agar diri ini bisa terkendalikan,dan kemudian,bisa
terbiasa untuk berbuat baik kepada diri sendiri,kepada Yang Mencipta kita,dan kepada sesama ciptaan.Pada posisi beragama seperti yang diajarkan dalam Serat Wedhatama,arogansi dalam beragama,yang muncul dalam kebiasaan
mengaku-ngaku sebagai satu-satunya kelompok yang pantas menjadi kekasih Tuhan,satu-satunya umat yang selamat dan bisa menikmati surga...harus disingkirkan.Itu harus diganti dengan
kerendahan hati...dengan sikap diam dalam ketekunan menjalankan laku prihatin.Keberagamaan kita tidak lagi disampaikan lewat kata-kata,tapi dibuktikan melalui perilaku mulia yang membuat orang lain tersenyum bahagia karena keberadaan kita............

Senin, 23 Februari 2015

mengenal DIRI...mengenal TUHAN ( teka-teki TAPAK KUNTUL MABUR )

"mengenal DIRI...mengenal TUHAN (teka-teki TAPAK KUNTUL MABUR)"

Penasaran dengan teka-teki yang
diberikan oleh burung Kuntul tentang Mengenal Diri…Mengenal Tuhan...

“ carilah jejak kakiku,ketika aku terbang/dolekono tracake kuntul mabur “ kalimat itu acapkali kudengar manakala para sesepuh memberikan wejangan tentang Mengenal Diri...Mengenal Tuhan...

Kalimat/sanepan tersebut membuat saya
termotifasi untuk melakukan perjalanan
melanglang buana menyelami samudera
BATINKU yang paling dalam.
Dalam khasanah Jawa,terminologi AJARAN tentang HIDUP begitu banyak disampaikan oleh orang-orang bijak dalam bentuk tembang,serat-serat dan rata-rata membutuhkan penafsiran yang bukan bersandar pada AKAL dan PIKIRAN,melainkan dituntut adanya peran BATIN untuk mengupas dan
memaknainya.

Bayangkan saja mana ada JEJAK kaki burung Kuntul ( Bangau ) ketika terbang…?? bisakah kita menemukan bekas jejaknya…?? Mari kita sama-sama saling merenungi sebuah pesan yang sangat syarat dengan HIKMAH dan MAKNA seperti yang disampaikan oleh Kanjeng Sunan Kali Jaga dalam bentuk metrum Dhandhang gulo seperti di bawah ini:
"Ana pandhita akarya wangsit,kaya kombang anggayuh tawang,susuh angin ngendi nggone,lawan galihing kangkung,watesane langit jaladri,tapake
kuntul mabur lan gigiring panglu,kusumo anjrah ing tawang,isine wuluh wungwang"

Ujar-ujar orang bijak ( pandhito ) diatas menyiratkan,bahwa sesuatu yang dicari itu adalah : susuh angin (sarang angin)
dimana tempatnya,galih kangkung (galih kangkung),tapak kuntul nglayang (bekas burung terbang),gigir panglu (pinggir
dari globe/dunia),wates langit (batas cakrawala),yang merupakan sesuatu yang “tidak tergambarkan” atau “tidak dapat disepertikan atau tak terdefinisikan” yang dalam bahasa Jawa ” TAN KENO KINOYO NGOPO ” yang pengertiannya sama dengan “Acintya” dalam ajaran Hindu.Dengan pengertian “acintya” atau “sesuatu yang tak
tergambarkan” itu mereka ingin menyatakan bahwa hakekat Tuhan adalah sebuah “kekosongan”,atau “suwung”,Kekosongan adalah sesuatu yang ada tetapi tak tergambarkan.Semua yang dicari dalam kidung dhandhanggula di atas adalah “kekosongan”

Susuh angin itu “kosong”,ati banyu pun “kosong”, demikian pula “tapak kuntul nglayang” dan “batas cakrawala”.Jadi,bagaimana jika kita sama-sama memaknainya bahwa hakekat Tuhan adalah “kekosongan abadi yang padat energi”,seperti areal hampa udara yang menyelimuti jagad raya,yang meliputi segalanya secara immanen sekaligus transenden,tak
terbayangkan namun mempunyai energi luar biasa,hingga membuat semua benda di angkasa berjalan sesuai kodratnya dan Irodat-Nya tidak saling bertabrakan.Sang “kosong” atau “suwung” itu meliputi segalanya, “suwung iku anglimputi sakalir kang ana”.Ia seperti udara yang tanpa batas dan keberadaannya
menyelimuti semua yang ada,baik di luar maupun di dalamnya.Karena pada diri kita ada Atman ( sang Pribadi,Sukma Jati,Ingsun Sejati ),yang tak lain adalah cahaya atau pancaran energi Tuhan,maka hakekat Atman adalah juga “kekosongan yang padat energi itu”.Dengan demikian apabila dalam diri kita hanya ada Atman,tanpa ada muatan yang lain,misalnya nafsu ( ego ) dan keinginan,maka “energi Atman” itu akan
berhubungan atau menyatu dengan sang “maha sumber energi”.Untuk itu yang diperlukan dalam usaha pencarian adalah mempelajari proses “penyatuan” antara Atman dengan Brahman itu.Logikanya,apabila hakekat Tuhan adalah “kekosongan” maka untuk menyatukan diri,maka diri kita pun harus “kosong”,Sebab hanya “yang kosonglah yang dapat menyatu dengan sang maha kosong”.Mungkin dalam gambaran orang ndeso yang memiliki pandangan “ CUPIT “ seperti saya ini,yang paling sederhana adalah jika dua kutub magnet didekatkan antara kutub positif dan negatif dipertemukan,maka akan terjadi daya “TOLAK MENOLAK“.Tapi sebaliknya jika kutub positif dan positif dipertemukan,jelas akan terjadi daya “TARIK MENARIK“.
Hmmm…hmmm...kira-kira nyambung gak yah analog di atas..?? yah..anggap saja ini ilmu gothak,gathik,gathuk…lah mathuk apa nggak.He..he....

Sejenak dalam ketermenunganku terlintas sebuah ayat dalam Kitab Suci Al-Qur'an yang berbunyi : "Hai orang-orang yang beriman,janganlah kamu salat ( sembahyang ),sedang kamu dalam keadaan mabuk..."(QS. An-Nisa 43). Loh..loh...opo hubungane..??.Begini yah...rasa-rasanya ayat ini mengisyaratkan kepada saya pribadi bahwa,jangan MENYEMBAH (Manunggal) dengan Tuhan jika dalam keadaan MABUK.Apa yang bisa kita pahami tentang kata MABUK tersebut.Dalam pikiran dangkal seperti
saya ini,MABUK bukan hanya karena seseorang kebanyakan ( klempoken ) minum ( nenggak ) MIRAS yang memabukkan,tetapi PENETRASINYA adalah kondisi seseorang dalam keadaan
“ KEMRUNGSUNG ATINE “ hik…apa yah kira-kira ilustrasi yang pas dan tepat jika dibahasa Indonesiakan…??.Ahhhg…anggap saja Pikirane Ngelantur,KALUT ( stress ) gitulah.Nah,seseorang yang dalam kondisi MABUK ( kemrungsung,Kalut,Stress ) menandakan adanya MUATAN peran dominasi Nafsu ( ego ) sang Pribadi.Sebagai efek dominonya,tentu saja kita sudah tidak bisa lagi mengingat siapa diri kita.Lalu bisakah kita dalam kondisi,keadaan seperti ini MANUNGGAL dengan Sang Maha Tunggal…??.Maka jelas sudah jika dalam sebuah ayat yang lain dikatakan “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat ( sembahyang ) ,yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya (sembahyangnya ),…(QS.Al- Maa’uun 4-5).

Lalu bagaimana caranya supaya kita tidak LALAI dalam shalat ( menyembah ) dan manunggal dengan sang Maha Tunggal…??Caranya dengan berusaha “mengosongkan diri” atau “membersihkan diri” dengan “menghilangan muatan-muatan yang membebani Atman” yang berupa berbagai nafsu dan keinginan. Ahhg…kok mbulet-mbulet seh,kongkretnya gimana…?? Begini deh…,Coba sekarang mari kita mulai dan kita buktikan saja bersama-sama.Tenanglah bersama diri sendiri.Nikmati saja,santai saja.Endapkan segala pikiran masa lalu atau masa depan.Entah itu masa lalu pun yang dimulai dari sekian detik sebelumnya atau yang sudah usang puluhan bahkan
ratusan hari yang lalu.Begitu juga janganlah memaksakan untuk berfikir ke depan entah itu lima menit kemudian,apalagi sekian tahun ke depan.Lah..lah...kok nggak ada apa–apa yah…??
KOSONG…!! Santai saja poro sanak Kadangku,justru memang disitulah sesungguhnya letak rahasianya. ”Ketiadaan apa–apa…!! alias KOSONG…!! karena KEKOSONGAN ( kehampaan ) adalah merupakan sumber CIKAL BAKAL ( tunas ) dari terjadinya apa–apa ( tumbuh )”. Memang hal ini seperti biji
tanaman.Dimakan langsung jelas rasa pahitnya dan tidak menyenangkan.Dipandang juga tidak kelihatan rupa dan warnanya.Satu–satunya jalan bagi kita adalah menanam dan merawat serta memupuknya hingga tumbuh besar dan
menghasilkan buah yang bisa dirasakan oleh orang banyak.Demi Waktu ! Agar kelak mengetahui buah sesungguhnya.Buah yang tak tertandingi sifat yang Maha MEMBERI dan MEMBERI…!!.Yaitu nikmat dan pengajaran “ RASA MAKNAWI “ dalam sang Pribadi ( sukma jati,jiwa ) kita…!!Dengan kata lain berusaha membangkitkan energi sang Pribadi agar tersambung dengan energi yang Maha Terpuji.Dengan uraian di atas maka cara yang biasanya ditempuh orang-orang
SPIRITUAL adalah melaksanakan “yoga,samadi,Manekung,dzikir,meditasi”,yang intinya adalah menghentikan segala
aktifitas pikiran beserta semua nafsu dan keinginan yang membebaninya sebagaimana telah dicontohkan oleh manusia-manusia PENCERAH seperti Ibrahim,Musa,Isa,Muhammad dll.Sebab pikiran yang selalu bekerja tak akan pernah menjadikan diri “kosong”.Karena itu salah satu caranya adalah dengan
“Amati Karya”,menghentikan segala aktifitas kerja akal pikiran.Apabila “kekosongan” merupakan hakekat Tuhan,apakah Padmasana,yang di bagian atasnya berbentuk “kursi kosong”,dan dianggap sebagai simbol singgasana “Sang Maha Kosong” itu adalah perwujudan dalam bentuk lain dari apa yang dicari orang Jawa lewat kidung-kidung,tembang,dhandhanggulo,macapat dan serat-serat itu?.

Ahhg…sang Kuntul telah memberikan pengajaran dan membukakan gelap dan kelamnya TABIR sang Pribadi yang
selama ini bergolak.Sebuah pesan singkat sang Kuntul itu kepadaku : Heih..."sing kuat olehmu gondhelan Teken Muhammad.Supoyo URIPMU ayem lan tentrem.Sebab nengdi wae olehmu kowe ngemboro,sak piro dhuwure olehmu ngangsu kaweruh tulis lan sudhul langit olehmu MANTHENG ngasah batin,ujung-ujunge kowe mung bakal tinemu marang SEJATINE awakmu dhewe.Mulo mung loro cacahe pilihan,kowe bakal milih arep dadi CAHYO kang PINUJI opo dadi CAHYO
kang MILANGKORI…!! Dhuh…opo meneh iki…??.

(Olah Kepribadian/Dialog Batin Agoeng Deworuci di Malem Rabu Kliwon 22/02/2015)

Sabtu, 21 Februari 2015

SEMAR (ASAL USUL,JATI DIRI & FILOSOFI)

SEMAR (ASAL USUL,JATI DIRI & FILOSOFI)

Batara Semar

MAYA adalah sebuah cahaya hitam.Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.Yang sesungguhnya ada,ternyata bukan.Yang bukan dikira iya.Yang wanter (bersemangat) hatinya,hilang kewanterane (semangatnya),sebab takut kalau keliru.Maya,atau Ismaya,cahaya hitam,juga disebut SEMAR artinya
tersamar,atau tidak jelas.Di dalam cerita pewayangan,Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa,ia diberi anugerah mustika manik astagina,yang mempunyai 8 daya,yaitu:
1. tidak pernah lapar
2. tidak pernah mengantuk
3. tidak pernah jatuh cinta
4. tidak pernah bersedih
5. tidak pernah merasa capek
6. tidak pernah menderita sakit
7. tidak pernah kepanasan
8. tidak pernah kedinginan

kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau kuncung.Semar atau Ismaya,diberi beberapa gelar yaitu; Batara Semar,Batara Ismaya,Batara Iswara,Batara Samara,Sanghyang Jagad Wungku,Sanghyang Jatiwasesa,Sanghyang Suryakanta.Ia diperintahkan untuk menguasai alam
Sunyaruri,atau alam kosong,tidak diperkenankan menguasi manusia di alam dunia.Di alam Sunyaruri,Batara Semar dijodohkan dengan Dewi
Sanggani putri dari Sanghyang Hening.Dari hasil perkawinan mereka,lahirlah sepuluh anak,yaitu: Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan,Batara Siwah,Batara Wrahaspati,Batara Yamadipati,Batara Surya,Batara Candra,Batara Kwera,Batara
Tamburu,Batara Kamajaya dan Dewi Sarmanasiti.Anak sulung yang bernama Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan mempunyai anak cebol,ipel-ipel dan berkulit hitam.Anak tersebut diberi nama Semarasanta dan diperintahkan turun di dunia,tinggal di padepokan Pujangkara.Semarasanta ditugaskan mengabdi kepada Resi Kanumanasa di Pertapaan Saptaarga.Dikisahkan munculnya Semarasanta di Pertapaan Saptaarga,diawali ketika Semarasanta dikejar oleh dua harimau,ia lari sampai ke Saptaarga dan ditolong oleh Resi Kanumanasa.Ke dua harimau tersebut diruwat oleh Sang Resi dan ke duanya
berubah menjadi bidadari yang cantik jelita.Yang tua bernama Dewi Kanestren dan yang muda bernama Dewi Retnawati.Dewi Kanestren diperistri oleh Semarasanta dan Dewi Retnawati menjadi istri Resi Kanumanasa.Mulai saat itu Semarasanta mengabdi di Saptaarga dan diberi sebutan Janggan Semarsanta.Sebagai Pamong atau abdi,Janggan Semarasanta sangat setia
kepada Bendara (tuan) nya.Ia selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan berpantang,berdoa,mengurangi tidur dan bertapa,agar mencapai kemuliaan.Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada keutamaan dibisikkan oleh tokoh ini.Sehingga hanya para Resi,Pendeta atau pun Ksatria yang kuat menjalani laku prihatin,mempunyai semangat pantang menyerah,rendah hati dan berperilaku mulia,yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta.Dapat dikatakan bahwa Janggan Semarasanta merupakan rahmat yang tersembunyi.Siapa pun juga yang diikutinya,hidupnya akan mencapai puncak kesuksesan yang membawa kebahagiaqan abadi lahir batin.Dalam catatan kisah pewayangan,ada tujuh orang yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta,yaitu; Resi Manumanasa
sampai enam keturunannya,Sakri,Sekutrem,Palasara,Abiyasa,Pandudewanata dan sampai Arjuna.Jika sedang marah kepada para Dewa,Janggan Semarasanta katitisan oleh eyangnya yaitu Batara Semar.Jika dilihat secara fisik,Semarasanta adalah seorang manusia cebol jelek dan hitam,namun sesungguhnya yang ada dibalik itu ia adalah pribadi dewa yang bernama Batara Semar atau Batara Ismaya.Karena Batara Semar tidak diperbolehkan menguasai langsung
alam dunia,maka ia memakai wadag Janggan Semarasanta sebagai media manitis (tinggal dan menyatu),sehingga akhirnya nama Semarasanta jarang disebut,ia lebih dikenal dengan nama
Semar.Seperti telah ditulis di atas,Semar atau Ismaya adalah penggambaran sesuatau yang tidak jelas tersamar.Yang ada itu adalah Semarasanta,tetapi sesungguhnya Semarasanta tidak ada.Yang sesungguhnya ada adalah Batara Semar,namun ia bukan Batara Semar,ia adalah manusia berbadan cebol,berkulit hitam yang bernama Semarasanta.Memang benar,ia adalah Semarasanta,tetapi yang diperbuat
bukan semata-mata perbuatan Semarasanta.Jika sangat yakin bahwa ia Semarasanta,tiba-tiba berubah keyakinan bahwa ia adalah Batara Semar,dan akhirnya tidak yakin,karena takut keliru.

Itulah sesuatu yang belum jelas,masih
diSAMARkan,yang digambarkan pada seorang tokoh Semar.SEMAR adalah sebuah misteri,rahasia Sang Pencipta.Rahasia tersebut akan disembunyikan kepada orang-orang yang egois,tamak,iri dengki,congkak dan tinggi hati,namun dibuka bagi orang-orang yang sabar,tulus,luhur budi dan rendah hati.Dan orang yang di anugerahi Sang Rahasia,atau SEMAR,hidupnya akan berhasil ke puncak kebahagiaan dan kemuliaan nan abadi............

Jumat, 20 Februari 2015

AKU...sopo INGSUN...???

AKU...sopo INGSUN...???

AKU yang sesungguhnya adalah perbendaharaan kata yang tersembunyi.Jika engkau ingin menemui–KU...Selamilah ke dalam samudera batinmu paling dalam.Yang Gelap dan Terangnya takkan terjangkau oleh pandangan mata Jasmanimu.Karena AKU tidak berada di dalam gelap dan terangnya pandangan matamu yang PALSU dan MENYESATKAN jalanmu...

AKU adalah Spirit yang “ TULIS TANPO PAPAN KASUNYATAN “

AKU adalah Substansi yang “ GUMANTUNG TANPO CENTHELAN “

AKU adalah Esensi yang “ LUNGGUH DUMUNUNG neng BATIN sing SUCI “

Ketika AKU terkurung oleh badan jasmani.AKU lah yang DZAHIR.Mengejahwantah dalam ASMA,SIFAT dan AF’AL yang “ SEPI ING PAMRIH RAME ING GAWE “

Tetapi….,Ketika AKU mengurung dan menyelimuti badan Jasmani.AKU lah yang BATIN.Mengejahwantah dalam DZAT yang ” TAN KENO KINOYO
NGOPO “

NGUPADI KASAMPURNANING URIP

"NGUPADI KASAMPURNANING URIP"

Inilah kehidupan spiritual,yang berharap melalui tangan ‘kan menemukan ketercerahan mengulurkan kebaikan keseluruh penjuru semesta.Melalui telinga bisa mendengarkan bisikan
terdalam yang hidup di jiwa alam.Melalui hati menemukan kedamaian.Melalui Mata ‘kan melihat Tuhan yang menyelinap di balik dedaunan dan seluruh wajah semesta alam.

Inilah SYARI’AT yang harus meng-AKAR kuat di jiwa,sebelum batang dan rantingnya mengajak tumbuh mencakar langit.Inilah dasar yang harus dihidupkan,bukannya dilalaikan,bahkan
bukannya hal yang tak lagi dikenal setelah sang wajah mampu menyapa MATAHARI.

Ada BATANG dan RANTING yang menjadi lantaran bagi kehidupan Jiwa,inilah THARIQAT yang harus kita tempuh,jalan
untuk menuju ladang-ladang pendakian yang lebih tinggi.

Ada HIJAU DEDAUNAN yang menampakkan bagi kehidupan akar
dan batang.Ada HAQIQAT yang menjadi ciri dari kehidupan jiwa,setelah syari’at dan thariqat ia jalani.

Dan diatas semua itu,inilah BUNGA KEHARUMAN jiwa,puncak dari semuanya.Inilah MAKRIFAT yang tidak akan tumbuh selain dari akar yang kuat,dari ranting dan batang yang kokoh dan dari hijaunya dedaunan.

Ada KESEDERHANAAN untuk menjaga jarak dengan kehidupan duniawi,untuk menandakan bahwa jiwa tidak terikat
akannya,..dan tak silau oleh gemerlapnya… ” ILANG
SAMUBARANG NGGEMBOL KADONYAN “.

Ada KEPASRAHAN yang harus di hidupkan yang akan menjadi pertanda bagi kehidupan RAGA dan URIP.Ada KEARIFAN yang akan menyembulkan putik keindahan menyemarakkan kehidupan kesucian di wajah bumi.Ada KESABARAN yang hendaknya dihidupkan ketika sadar perjalanan kehidupan ibarat roda yang senantiasa berputar,dan takkan ada manusia yang terhindar dari gilasannya.Hendaklah
engkau selalu berada di porosnya.Ada DUKA yang menemani SUKA ,ada SUKA yang bersembunyi dibalik DUKA.Inilah dua sisi kehidupan yang hendaknya tidak
diabaikan,karena inilah jiwa masih hidup,ketika disadari keduanya ada dalam SATU ATAP KEHENDAKNYA.Ada KETERLEPASAN yang hendaknya kita kembalikan kepadaNya,ketika sadar perjalanan harus ditempuh,tidak lepas
dari usaha2.Ada PUTIK KEHARUMAN dibalik desah haru kita,menghantarkan
kepada SANG KEKASIH dan menyerahkan sepenuhnya dalam jiwa kehendakNya.

Didalam dirimu terdapat sekuntum TERATAI SUCI ,Sumber kebijaksanaan yang tiada batas.Kembangkanlah Welas asihmu dengan arif,maka kuntum Terataimu akan mekar.Jangan sampaikan kepada dunia…,bahwa jiwamu telah mengetahui apa yang ada dibalik yang nampak,apa yang tersembunyi dikedalaman kalbu,tapi jadilah sebagaimana TERATAI yang tak menyadari keindahannya,dan tetap tinggal di kedalaman kolam.Berhentilah mencari wahai JIWA,…berhentilah mendengarkan dan lalaikan telingamu dari sabda Sang GURU,karena GURU
SEJATI itu kini ada di DIRI kita,…ada dialam semesta ini...Marilah bersamanya dan mengikuti KEHENDAKNYA,…yang ’kan tunjukkan padamu KeagunganNya.Lewat setiap wajah alam raya,…mengikuti Kehendak URIP yang abadi,memberikan pengadilan,…belajarlah darinya…,dari wajah yang dihamparkan olehNya,…wajah yang menyeratakan keheningan ditubuhnya.

Inilah SEJATINYA PERJALANAN,jangan berhenti jika belum merasakan kepedihan dan penderitaan.Jangan berhenti jika
belum merasakan riak gelombang yang menghempaskan tubuhmu….

Menemukan HAKEKAT KEHIDUPAN,ibarat menemukan akar
pohon,lalu menyiram air pada akar itu.TEKUN dalam kesadaran akan URIP,lebih baik daripada sibuk dalam ber angan-angan akan GUSTI~TUHAN...

(Olah Kepribadian Agoeng Deworuci,Malem Sabtu Legi 20/02/2015)

SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU

" SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU "

Dalam Sandi Sastra :

Ha – Huripku Cahyaning Allah

Na – Nur Hurip cahya wewayangan

Ca – Cipta rasa karsa kwasa

Ra – Rasa kwasa tetunggaling pangreh

Ka – Karsa kwasa kang tanpa karsa lan niat

Da – Dumadi kang kinarti

Ta – Tetep jumeneng ing dzat kang tanpa niat

Sa – Sipat hana kang tanpa wiwit

Wa – Wujud hana tan kena kinira

La – Lali eling wewatesane

Pa – Papan kang tanpa kiblat

Dha – Dhuwur wekasane endhek wiwitane

Ja – Jumbuhing kawula lan Gusti

Ya – Yen rumangsa tanpa karsa

Nya – Nyata tanpa mata ngerti tanpa diwuruki

Ma – Mati bisa bali

Ga – Guru Sejati kang muruki

Ba – Bayu Sejati kang andalani

Tha – Thukul saka niat

Nga – Ngracut busananing manungsa

Sastra Jendra ya sastra harjendra adalah sastra/ilmu yang bersifat rahasia/gaib.Rahasia,karena pada mulanya hanya
diwedarkan hanya kepada orang-orang yang terpilih dan kalangan yang terbatas secara lisan.Gaib,karena ilmu ini diajarkan oleh Guru Sejati lewat Rasa Sejati.Hayuningrat/yuningrat berasal dari kata hayu/rahayu – selamat dan ing rat
yang berarti didunia.Pangruwating Diyu,artinya meruwat,meluluhkan,merubah,memperbaiki sifat-sifat diyu,raksasa,angkara,durjana.Maka Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu maknanya adalah ilmu rahasia keselamatan untuk meruwat sifat-sifat angkara didunia ini,baik dunia mikro dan makro.Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah merupakan
Ilmu yang berasal dari Allah Yang Maha Esa,yang dapat menyelamatkan segala sesuatu.Maka,tiada kawruh/pengetahuan lain lagi yang dapat digapai oleh manusia,yang lebih dalam dan lebih luas melebihi Sastra Jendra Hayuningrat
Pangruwating Diyu,sebab ini adalah merupakan sastra adi luhung atau ilmu luhur yang merupakan ujung akhir dari segala pengetahuan/kawruh kasampurnan sampai saat ini.Makna/kawruh Yang Terkandung Dalam Sandi Sastra Kalau diurut dari atas kebawah,dari Ha sampai Nga,mengandung makna yang sangat dalam dan sangat luas tentang rahasia gumelaring dumadi,atau pambabaring titah,atau rahasia jati diri,asal-usul/terjadinya manusia.Yaitu terciptanya
manusia dari Nur,Cahaya Allah yang bersifat tiga,Tri Tunggal Maha Suci,yang merasuk busana anasir-anasir sebagai wadah,yaitu badan jasmani halusan dan badan jasmani kasar.Apabila diurut terbalik,dari Nga naik sampai Ha,maka inilah “rahasia” jalan rahayu,ya pangruwating diyu,untuk menuju
kesempurnaan hidup kembali kepada sangkan paraning dumadi.Kembali ke asal mula,ke Alam Sejati mencapai persatuan dengan Allah Yang Maha Agung.Jadi,dari Nga sampai Ha,juga
merupakan urut-urutan panembah,dimulai dari badan jasmani
kasar,dimana titik berat kesadaran kemudian harus dialihkan satu tahap demi tahap ke arah asal-mula,ke Alam Sejati.Syarat mutlak agar kita dapat menyadari/ memahami sesuatu hal,adalah membawa kesadaran kita bergerak masuk berada disitu.Fokus/titik berat kesadaran dapat berpindah.Didalam keseharian hidup,kesadaran kita banyak terfokus dialam badan kasar,alam anasir,diluar Alam Sejati.Maka,satu-persatu tahap dari Nga,Tha,Ba dan seterusnya sampai Nga haruslah dilewati untuk memindahkan tingkat kesadaran dari alam kasar/fana/maya menuju Alam Sejati.Sedangkan tahapan pertama yang harus dilalui yaitu Nga,sedemikian rumit dan sulitnya,maka
dapat dibayangkan tidak begitu mudah untuk dapat memindahkan titik berat/focus kesadaran ke Alam Sejati.Namun itulah intinya perjalanan spiritual yang harus kita tempuh.

Secara “garis besar”, Ha-Na-Ca-Ra-Ka-Da-Ta-Sa-Wa-La-Pa-Dha-Ja-Ya-Nya-Ma-Ga-Ba-Tha-Nga......kalau diuraikan adalah sebagai berikut (garis besar saja,karena detailnya begitu luas/multi dimensi tak terkira penuh dengan kawruh kasunyatan sejati yang tak habis diuraikan dalam bahasa kewadagan apalagi tulisan).

Dan dibawah ini adalah garis besar uraian dari sisi spiritualnya guna dipakai sebagai “mile stones” dalam menempuh jalan rahayu untuk dapat kembali ke ”SANGKAN PARANING DUMADI“.

1. Ha – Huripku Cahyaning Allah
(Hidupku adalah Cahaya Allah).Sebelum ada apa-apa,sebelum alam semesta beserta isinya ini tercipta,adalah Sang Hidup ya Allah ya Ingsun yang ada dialam awung-uwung yang tiada awal dan akhir,yaitu alam/kahanan Allah yang masih rahasia/Alam Sejati.Itulah Kerajaan Allah ya Ingsun.Sebelum alam semesta tercipta,Allah berkehendak
menurunkan Roh Suci,ya Cahaya Allah.Ya Cahaya Allah itulah Hidupku,Hidup kita yang Maha Suci.Alam Sejati adalah alam yang tidak mengandung anasir-anasir
(unsur-unsur hawa,api,air dan bumi/tanah) yang berada didalam badan manusia,dimana Cahaya Allah bersemayam.Alam Sejati diselubungi/menyelubungi dua alam beranasir yaitu
halus dan kasar.Dapat pula diartikan,badan manusia berada didalam Alam Sejati.

2. Na – Nur Hurip Cahya wewayangan (Nur Hidup Cahya yang membayang).Hidup merupakan kandang Nur yang memancarkan Cahaya
Kehidupan yang membayang yang merupakan rahasia Allah.Kehidupan yang Maha Mulia.Tri Tunggal Mahasuci berada
dipusat Hidup.Ya itulah Kerajaan Allah.Sang Tritunggal adalah Allah ta’ala/Gusti Allah/Pengeran/Suksma Kawekas,Ingsun/Rasul Sejati/Guru Sejati/Suksma Sejati/Kristus dan Roh Suci/Nur Pepanjer/Nur Muhammad.Diuraikan diatas,bahwa ketiga alam yaitu badan kasar,badan halus dan Alam Sejati,mengambil ruang didalam badan jasmani kasar secara bersamaan.Namun kebanyakan kita manusia tidak atau belum menyadari akan Alam Sejati,atau samar-samar.Nur
Hidup bagaikan cahaya yang samar membayang.

3. Ca – Cipta rasa karsa kwasa (Cipta rasa karsa kuasa).Nur Hidup memberi daya kepada Rasa/Rahsa Jati/Sir,artinya
Cahaya/Nur/Roh Suci menghidupkan Rasa/Rahsa Jati/Sir yang merupakan sumber kuasa.Maka bersifat Maha Wisesa.Rasa/Rahsa Jati/Sir menghidupkan roh/suksma yang mewujudkan adanya cipta.Maka bersifat Maha Kuasa.

4. Ra – Rasa kwasa tetunggaling pangreh (Rasa kuasa akan adanya satu-satunya wujud kendali/yang memerintah).Rasa Sejati yang memberi daya hidup roh/suksma sehingga roh/suksma dapat menguasai nafsu (sedulur lima),sehingga
terjadilah sifat Maha Tinggi.

5. Ka – Karsa kwasa kang tanpa karsa lan niat (Karsa kuasa tanpa didasari oleh kehendak dan niat).Yang mendasari adanya kuasa agung adalah kasih yang tulus,tanpa kehendak,tanpa niat.Pamrihnya hanyalah terciptanya
kasih yang berkuasa memayu hayuning jagad kecil dan jagad agung.

6. Da – Dumadi kang kinarti (Tumitah/menjadi ada/terjadi dengan membawa maksud,rencana dan makna).Ini berkaitan dengan Karsa Allah menciptakan manusia,makhluk lain dan alam semesta beserta isinya yang sesuai dengan Rencana Allah.

7. Ta – Tetep jumeneng ing dzat kang tanpa niat (Tetap berada dalam dzat yang tanpa niat).Dat atau zat tanpa bertempat tinggal,yang merupakan awal mula adalah dat Yang Maha Suci yang bersifat esa,langgeng dan eneng.Hidup sejati kita menyatu dengan dat,ada didalam dat.Maka didalam kehidupan saat ini agar selalu eksis selaras dengan dat Yang Maha Suci,situasi tanpa niat atau mati sajroning urip (mati didalam hidup) dengan kata lain hidup didalam kematian,seyogyanya selalu diupayakan.

8. Sa – Sipat hana kang tanpa wiwit (Sifat ada tanpa awal).Ini adalah sifat Sang Hidup,Allah,di Alam Sejati,tiada awal dan
tiada akhir, “AKUlah alpha dan omega”.Demikian pula “hidup” sejati nya manusia sudah ada sebelumnya,tiada awal mula,bersatu di Alam Sejati yang langgeng,yang merupakan Kerajaan
Allah,ya Sangkan Paraning Dumadi.

9. Wa – Wujud hana tan kena kinira (Wujud ada tiada dapat diuraikan/dijelaskan).Ada nya wujud namun tiada dapat diuraikan dan dijelaskan.Ini
adalah menerangkan keadaan Allah,yang sangat serba samar,tiada rupa,tiada bersuara,bukan lelaki bukan perempuan bukan waria,tiada terlihat,tiada bertempat,dijamah disentuh tiada dapat.Sebelum adanya dunia dan akherat,yang ada adalah Hidup Kita.

10. La – Lali eling wewatesane (Lupa dan Ingat adalah batasannya).Untuk dapat selalu berada didalam jalan hayu/rahayu maka haruslah selalu eling/ingat akan sangkan paraning dumadi dan eling/ingat akan Yang Menitahkan/ Sumber Hidup.Selalu ingat akan tata laku setiap tindak tanduk yang dijalankannya agar
selaras dengan Karsa Allah.Lali/lupa akan menjauhkan dari sangkan paraning dumadi dan menjerumuskan kealam
kegelapan.Contoh lupa adalah bagaikan Begawan Wisrawa dalam menguraikan Sastra Jendra Hayuningrat kepada Dewi
Sukesi.Tak tahan akan goda/ tak kuasa ngracut,mengendalikan nafsu-nafsu keempat saudara,maka sang Begawan kesengsem birahi kepada Dewi Sukesi yang harusnya menjadi menantunya.

11. Pa – Papan kang tanpa kiblat (Papan tak berkiblat).Ini adalah menerangkan Alam Sejati,ya Kerajaan Allah yang tiada dapat diterangkan bagaimana dan dimana orientasinya,bagaikan papan yang tiada utara-selatan-barat-timur-atas-bawah.

12. Dha – Dhuwur wekasane endhek wiwitane (Tinggi/luhur pada akhirnya,rendah pada awalnya).Untuk memperoleh tingkatan luhuring batin menjadi insan sempurna memang tidak dapat seketika,mesti diperoleh setapak-setapak dari bawah.Demikian pula dalam hal ilmu kasampurnan,dalam mencapai tataran ma’rifat tidaklah dapat langsung
meloncat.Untuk bisa mengetahui dan memahami makna Ha,maka haruslah dicapai dari Nga.Sebelum mencapai sembah rasa,haruslah dilalui sembah raga dan sembah kalbu/sembah jiwa terlebih dahulu.Pertama,adalah panembah raga/ kawula terhadap Roh Suci,kedua adalah panembah Roh Suci kepada Guru Sejati,dan terakhir adalah panembah Guru Sejati/Ingsun kepada Allah Yang Maha Agung ya Suksma Kawekas.

13. Ja – Jumbuhing kawula lan Gusti (Bersatunya antara hamba dan Tuan nya).Bersatunya titah dan Yang Menitahkannya.Untuk mencapainya maka kesempurnaan hiduplah yang diupaya yaitu sesuai apa yang dimaksud dalam syahadat.Maka semasa hidup di
mayapada/dunia,bersatunya/sinkronisasi Roh Sejati,Ingsun yang jumeneng pribadi dan busana-busana haruslah terjaga.Bagaikan keris manjing dalam warangkanya dan warangka manjing
didalam keris.Untuk dapat mencapai kesatuan antara kawula dan Gusti maka tuntunan seorang guru yaitu Guru Sejati menjadi dominan.Untuk memperoleh nya maka tidaklah mudah,haruslah dengan disiplin keras bagaikan kerasnya usaha seorang Bima menemukan Dewa Ruci,yaitu wujud Bima dalam ujud yang kecil (manusia telah menemukan AKU nya sendiri) dalam mencari tirta pawitra.

14. Ya – Yen rumangsa tanpa karsa (Kalau merasa tanpa kehendak).Hanya dengan rila/rela,narima,sumarah/pasrah kepada Allah tanpa pamrih lain-lain,namun dorongan karena kasih sajalah yang akhirnya dapat menjadi perekat yang kuat antara asal dan tujuan,sini dan sana.

15. Nya – Nyata tanpa mata ngerti tanpa diwuruki (Melihat tanpa dengan mata,mengerti tanpa diajari).Kalau anugerah Allah telah diterima,maka dapat melihat hal-hal yang kasat mata,karena mata batin telah “terbuka”.Selain itu,kuasa-kuasa agung akan diberikan oleh Allah lewat Guru Sejatinya sendiri ya Suksma Sejatinya,sehingga kegaiban-kegaiban yang merupakan misteri kehidupan dapat dimengertinya dan diselaminya.Mendapatkan ilmu kasampurnan dari dalam sanubarinya,tanpa melalui perantaraan otak/akal.

16. Ma – Mati bisa bali (Mati bisa kembali).Kasih Allah yang luar biasa selalu memberikan ampunan kepada
setiap manusia yang “mati” terjatuh dalam dosa dan salah.Matinya raga atau badan wadag hanyalah matinya keempat
anasir yang tadinya tiada,kembali ketiada.Namun roh yang sifatnya kekal tiada pernah mati,namun kembali ke Alam Sejati ya Kerajaan Allah yang tiada awal dan akhir.Namun,apabila selama hidupnya di mayapada tidak sesuai dengan Karsa Allah,melupakan Allah dan ajaran Guru Sejati,tiada dapat ngracut
busana kamanungsan nya untuk tindakan-tindakan budi luhur,maka tidaklah dapat langsung kembali ke Alam Sejati,namun terperosok ke alam-alam yang tingkatannya lebih rendah sesuai
dengan bobot kesalahannya,atau dititahkan kembali,yang kesemua itu untuk dapat memperbaiki kesalahan-kesalahannya.

17. Ga – Guru Sejati kang muruki (Guru Sejati yang mengajari).Sumber segala sesuatu adalah Allah yang dipancarkan lewat Sang Guru Sejati/Ingsun/Rasul Sejati.Maka hanya kepadaNya lah tuntunan harusnya diperoleh.Petunjuk Guru Sejati hanya dapat didengar dan diterima apabila sudah dapat berhasil
meracut busana kamanungsan nya.Disinilah akan tercapai
guruku ya AKU,muridKU ya aku.

18. Ba – Bayu Sejati kang andalani (Dengan bantuan Bayu Sejati).Daya kekuatan sejati yang merupakan bayangan daya kekuatan Allah lah yang mendorong “pencapaian” tingkat-tingkat yang lebih tinggi atau maksud-maksud spirituil yang berarti.

19. Tha – Thukul saka niat (Tumbuh/muncul dari niat).Niat menuju kearah sangkan paraning dumadi yang didasari
kesucian,tanpa kehendak dan keinginan ataupun pamrih keduniawian.Timbulnya niat suci karena dasarnya adalah cinta/kasih Illahi.

20. Nga – Ngracut busananing manungsa (Merajut/menjalin pakaian-pakaian ke-manusiaan-nya).Busana kamanungsan adalah empat anasir,yang
dimanifestasikan dalam wujud-wujud sedulur empat,serta lima sedulur lainnya.Kesembilan saudara tersebut harus dikuasai,diracut/dijalin dengan memahami kelebihan dan kekurangannya,agar tercapai “iklim” harmoni/balance dalam perjalanan manusia hidup di maya pada ini,yang pada akhirnya tercapailah kesempurnaan hidup..............

(Olah Kepribadian Agoeng Deworuci,Malem Sabtu Legi 20/02/2015)