Minggu, 10 April 2016

IBADAH = NGAWULO = MELAYANI

IBADAH = NGAWULO = MELAYANI

Ibadah kepada Tuhan

Jika kita mendengar kata “ ibadah “,maka yang tertangkap oleh pikiran kita adalah bentuk tindakan ritual agama.Lalu,kalau ada orang yang tidak menjalankan ritual formal tersebut,kita akan katakan bahwa orang itu tidak “beribadah“.Akibatnya,suburlah formalitas dalam kehidupan ini.Orang akan takut dicap atau dikatakan “ kafir “, maka rajinlah ia ketempat-tempat ibadah.Tetapi kezaliman dalam bentuk korupsi,manipulasi dan kong-kalikong,curiga terhadap orang lain yang tidak se ide atau segolongan tetap langgeng dalam prakteknya.Orang lebih
mementingkan “kesatuan ” daripada persatuan.Orang lebih suka terhadap “ keseragaman “ dari pada “ keberagaman “.Kalau ini yang terjadi,bukan ibadah yang subur tetapi merupakan bentuk
ibadah upacara….!.

Manusia tidak bisa diseragamkan,karena masing-masing memiliki kadar dan batasannya sendiri-sendiri.Persatuan
memang harus dibangun,tetapi bukan “ kesatuan atau keseragaman “.Menyeragamkan orang-orang yang batasnya jauh berbeda akan menghancurkan “ tatanan kehidupan “ bagi masyarakat.Ini sama artinya kita telah menerima hal-hal yang
bersifat “ Thaghut “ atau melampaui batas.Sudah semestinya kita ini memandang bahwa semua agama
diajarkan oleh para nabi-nabi berdasarkan “ realitas “,bukan atas dasar budi yang tidak terpimpin.Kita juga harus sadar bahwa ketika Nabi-nabi mengajarkan agama kepada manusia memang ( maaf mengambil istilah Jawa ) “ Bener dan Pener “.Bener karena agama diajarkan oleh para nabi diterima oleh beliau dari Tuhan.Pener karena agama diajarkan oleh beliau sendiri yang
disesuaikan dengan kondisi,budaya,serta tingkat peradaban dan dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh masyarakat yang menerimanya pada masa itu.Agar agama itu tetap dianut masyarakatnya secara “ hanif “atau lurus,makanya di dalam sebuah teks book Kitab Suci banyak ayat yang memerintahkan
manusia untuk “ berpikir,bertafakkur,bertadzabur,bertazakkur dan bernalar “.Tujuannya apa…?.Supaya kita-kita ini dalam beribadah tidak memperturutkan “ hawa nafsu “ atau Ego .Mengikuti hawa nafsu,memperturutkan keinginan tanpa pikir,dapat menjatuhkan diri ke dalam dunia hampa yang penuh kegelapan.Karena itu dari segala jenis berhala yang paling berbahaya bagi manusia adalah “ mempertuhan hawa nafsu “ alias thaghut.Jangan sampai keimanan kita gugur gara-gara secara tak sadar kita telah ber Tuhan pada hawa nafsu kita sendiri…..!!.

Jelas,bahwa inti hidup manusia beragama adalah mengingkari
bentuk “ thaghut “ yaitu menolak ber-Tuhan pada hawa nafsu.Sikap demikian yang seharusnya kita tampilkan,aplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.Biarkan orang-orang bekerja diladangnya dengan tenang.Biarkan orang saling menolong
sesuai kemampuannya dengan nyaman.Jangan ganggu orang yang melakukan ritual keagamaan berdasarkan keyakinan dan
pemahamannya.Jangan paksa orang untuk menjalankan syariat yang
dirasakan asing baginya.Sebab menjalankan syariat yang sama sekali tidak dimengerti,dipahami manfaatnya,ibarat orang yang berjalan tetapi tidak tahu kemana tujuannya.Hal ini sama saja beribadah dengan “kepalsuan penuh kepura-puraan“ dan
membohong diri sendiri.Sudah semestinya dalam beribadah terlebih dahulu kita harus memahami makna “ iyya kana’budu “ hanya kepada Tuhan kami beribadah,betul-betul kita resapi,dihayati dan diamalkan dalam
kehidupan bermasyarakat dengan wujud dan karya nyata.Bukan hanya beribadah dalam konteks “ritualnya” ,melainkan dengan aksi,tindakan dan perbuatan yang bisa dirasakan manfaatnya oleh sesama.Bagaimana bisa disebut ibadah hanya kepada Tuhan bila yang kita lakukan masih dalam bentuk ikut-ikutan
yang berhenti dan mandheg pada stasiun apa katanya…?.Apakah bisa disebut ibadah kepada Tuhan jika yang kita lakukan karena bentuk-bentuk ketakutan…?.Apakah bisa disebut ibadah
kepada Tuhan jika yang kita lakukan karena mengharap pahala dan surga…?.Apalagi karena keterpaksaan mengikuti sebuah perintah hadis dan teks book Kitab Suci…!.Seseorang yang telah mengerjakan ladangya dengan benar,lalu menanam benih ke dalam lubang sambil mengingat Tuhan Yang
Mahakuasa,itu disebut ibadah.Seorang karyawan yang bekerja di Perusahaan dengan benar dan mengikuti segala aturan yang ada di dalamnya,itu juga bentuk dari pada ibadah.Jadi prinsipnya ibadah adalah bentuk-bentuk pengabdian yang nyata…!!.Bukan berbuat atas dasar angan-angan,kalau yang demikian namanya kita beribadah dalam hayalan.Jika seseorang ingin kenyang ya harus makan,jika ingin punya uang ya harus bekerja.Kalau kita ingin “ ilaihi raji’un “ kembali kepada Tuhan ya
harus tahu jalannya….!.Jalan itu telah dibuat oleh Tuhan di dalam diri kita masing-masing.Jadi kalau kita mau beribadah dengan benar,yah…sudah
seharusnya kita cari dalam diri kita….!!Karena Tuhan itu sudah ada dalam diri manusia dan tak perlu jauh-jauh manusia dalam mencari Tuhan-Nya…!!. Sebagaimana yang telah tersirat dalam
suratan Kitab Suci (QS. Al Hadid. 4) yang terjemahannya demikian :
“ …………….Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan “.

Atmosfir yang berkembang dalam komunitas agama,ibadah baru dipahami hanya sebatas “menyembah” kepada Tuhan.Ibadat atau dalam bahasa Arab berarti a-ba-da,yang memiliki arti jamak berupa melayani,menyembah,menghambakan diri,menundukkan diri,mencintai dan memuliakan.Jika seseorang melayani Tuhan,maka Tuhan akan melayani orang tersebut.Bukankah hal ini juga telah tertulis dalam Kitab Suci QS.Al Baqaarah 152 dikatakan “ Berdzikirlah kalian kepada-Ku,niscaya Aku berdzikir kepadamu “.Lalu diayat yang lain QS.Al Baqaarah 156 “ Aku mengabulkan
permohonan orang yang meminta kepada-Ku,maka hendaklah
mereka itu memenuhi permintaan-Ku dan beriman kepada-Ku “.Dan,apa kira-kira bentuk permintaan Tuhan itu…?.Ternyata di dalam Kitab Suci,manusia dilarang untuk berbuat zalim,merusak alam beserta isinya dan segala bentuk tindakan yang “ memperturutkan hawa nafsu “.Disamping ada permintaan yang bersifat larangan,ada pula yang bersifat perintah.Dan,yang diperintah oleh Tuhan kepada manusia adalah seseorang harus berbuat baik dan adil terhadap sesama,menebarkan kasih sayang,membangun persaudaraan antara sesama dalam lintas agama,budaya dan bangsa.Seseorang juga disuruh untuk memberikan pertolongan dan perlindungan bagi yang lemah.Permintaan ini harus dibarengi pula dengan keimanan kepada Tuhan.Yang mesti kita pahami,iman bukan hanya sekedar percaya dalam bentuk ucapan,kalau yang ini anak kecil saja pun bisa,tetapi iman merupakan perwujudan dari hati yang aman dan jiwa yang rela….!!.Aman dari apa…?.Tentu saja aman dari sifat-sifat kedengkian,hasud,dendam,kesombongan,iri hati,dan berbagai macam sifat negatif lainnya.

Dalam komunitas pendaki spiritual,untuk bisa beribadah guna mendapat bimbingan dari Tuhan,manusia harus bertahali,mengosongkan hati ( qalbu ) dari berbagai sifat negatif.Bertahali
yaitu menghiasi qalbu dengan berbagai sifat positif.Nah bila hati ( qalbu ) manusia sudah aman dan tenang,maka akan bersemayamlah Tuhan di dalam hatinya.Bukankah langit,bumi dan segala isinya tak akan mampu menjangkau Tuhan…?.Tetapi hati orang mukminlah yang mampu menjadi tempat bersemayam-Nya Tuhan.Makna ibadah yang lain adalah mengikatkan diri kepada Tuhan.Juga disebut dengan menundukkan diri kepada Tuhan.Dalam
makna ini seseorang yang beribadah haruslah jauh dari segala pamrih terhadap sesamanya.Cara untuk menundukkan diri pun tidak bisa diprogram,dipola dan diatur oleh orang lain.Sama dengan orang yang mau makan,batas kenyang seseorang tidak
dapat ditentukan oleh orang lain.

Mengikuti diri sendiri tidak sama dengan berperilaku semena-mena,semau gue,sak kepenak-e udele dhewe.Mengikuti diri sendiri itu terlahir dari “ pencarian makna “ hidup,bukan karena bentuk “ kefrustasian ” menjalani kehidupan..............

(Olah Kepribadian Agoeng Deworuci,Di Keheningan 1/3 Malem Kemis Pon 05/03/2015)

Selasa, 08 Maret 2016

" SEMEDI/DZIKIR/MEDITASI/KONTEMPLASI "

"SEMEDI/DZIKIR/MEDITASI/KONTEMPLASI"

Barangkali kita semua tidaklah merasa asing mendengar judul yang saya buat diatas,namun sejenak saya hanya ingin mencoba memberikan penjabaran berdasarkan pengalaman yang saya miliki.
Apa sih sebenarnya tujuan Meditasi atau Kontemplasi itu yang sesungguhnya…??.Meditasi bisa disamakan dengan DZIKIR,malahan dalam istilah Jawa hal ini biasanya disebut dengan “ manekung “ yang berasal dari kata “ tekung “ yang bermakna sebagai sikap yang “ tunduk “ atau menundukkan diri. Dalam khazanah pendaki Spiritual ( sufisme ) dzikir berarti secara terus-menerus menyebut kata-kata tertentu secara berulang-ulang.Biasanya berupa kata “ pujian “ terhadap Tuhan Hyang Moho Tunggal yang pada intinya dzikir adalah sebagai formula untuk mengingat-ingat akan keberadaan Tuhan.Dalam praktiknya dzikir berupa aktifitas menuangi pikiran
dan hati dengan nama atau pujian terhadap Tuhan.Atau menuangkan “ Asma “ Tuhan ke dalam hati dan pikiran sehingga tak ada nama lain dalam hati dan pikiran tadi selain Asma-Nya.

Lalu apa yang disebut dengan Meditasi..??.Meditasi adalah
MERENUNGKAN atau MERESAPKAN dan bisa juga bermakna PIKIRAN yang amat DALAM yang bertujuan untuk mencapai
KESADARAN DIRI dan untuk mencapai OBYEK SPIRITUAL,guna menjadi manusia-manusia yang TERCERAHKAN.Sehingga dalam
prakteknya dalam kehidupan bermasyarakat diharapkan bisa menjadi manusia yang penuh KEARIFAN,BIJAK dan KASIH SAYANG terhadap sesama makhluk dalam segala tindakan dan
perbuatannya.
Kang sinedyo tineken Hyang Widi… ( Yang diinginkan dikabulkan oleh Tuhan )

Kang kinasara dumadakan keno… ( Yang dikehendaki tiba-tiba didapat )

Tur sisihan Pangerane… ( dan dikasihi oleh Tuhan )

Nadyan tan weruh iku… ( Meskipun dirinya tidak tahu )

Lamun nedyo muja semedi… ( Akan tetapi ketika dia hendak melakukan semedi )

Sesaji neng segoro… ( Dia memberikan sesajian di Samudera/Hati/Qalbu )

Dadya ngumbaraku… ( Jadilah pengembaraan itu )

Dumadi sariro tunggal… ( Untuk menjadi SATU DIRI )

Tunggal jati swara ono ing Hartati… ( Satu kesejatian suara yg ada dalam QALBU )

Kang aran Sekar Jempina… ( Itulah yang disebut Bunga Jempina )

Yah..yah..orang yang dijaga oleh Tuhan sudah tentu semua kehendak akan dikabulkan-Nya.Yang dijaga oleh Tuhan adalah orang-orang yang dapat mengendalikan “ daya nafsu “ yang ada
dalam dirinya.Daya nafsu tersebut hanya dikendalikan saja bukan untuk dibasmi…!!.Membasmi daya nafsu sama dengan menyalahi KODRAT manusia itu sendiri.Daya dorong kearah positif dan negatif harus diselaraskan,diharmoniskan dan selalu dijaga keseimbangannya.Jika daya nafsu bisa kita kendalikan dengan baik,itu sama artinya kita telah bergerak untuk menyatukan DIRI dengan Tuhan Hyang
Moho Tunggal.Menyatukan yang saya maksudkan bukanlah dalam pengertian menyatunya Dzat manusia dengan Dzat Tuhan loh…??.Bukan demikian..!!

Manusia tidak perlu menyatukan
DIRINYA dengan Dzat Tuhan,karena Tuhan keberadaan-Nya sudah meliputi segala sesuatu.Yang perlu disatukan itu adalah “ Sifat,Asma dan Af’al “ manusia,agar selaras dengan sifat,asma
dan af’al Tuhan yang telah diberikan kepada semua manusia sebagai KODRAT dan IRADAH yang sudah ada dalam diri setiap manusia.Jadi tugas manusia hanyalah “ MENYELARASKAN,MENYERASIKAN “ dengan Kodrat dan Irodah Tuhan.Untuk bisa menyatukan diri dengan Tuhan,manusia dalam berbagai cara melakukan diantaranya adalah dengan cara MEDITASI,KONTEMPLASI yang dalam hal ini manusia harus bisa
menyatukan segenap PERASAAN dan PIKIRAN dengan nafasnya dalam bermeditasi.Puncak dari adanya penyatuan ini biasanya dalam ukuran minim yang bisa terasa adalah timbulnya “ ketenangan Jiwa “ dan tentramnya Qalbu.Ya..ya.. hanya dengan “ mengingat “ Tuhan lah qalbu/hati bisa menjadi tenang ( QS. Ar-Ra’d . 28 )

Meditasi,Kontemplasi,Dzikir hanyalah sarana dan cara untuk meningkatkan kesempurnaan SPIRITUAL.Dalam hal ini saya membagi dalam 3 ( tiga ) tahapan yang harus dilakukan dalam bermeditasi,kontemplasi,dzikir :

Pertama:
Bagi kita yang hendak melakukan meditasi,dzikir dan kontemplasi harus dapat melakukan dalam khazanah Jawa
disebut “ sesaji ing segoro “ yaitu mengutamakan peranan QALBU,HATI atau NURANI.Kita harus bisa mengendalikan Hati sehingga
pengembaraan dari sang Perasaan,Pikiran dan daya Nafsu
benar-benar menyatu dalam suatu kehendak yang kuat untuk “ mengeleminir “ dorongan hawa nafsu di dalam semedi ( meditasi ).Dalam PUJA SEMEDI itu bertujuan untuk
MENGOSONGKAN HATI dari segala hal yang SELAIN Tuhan.Hasrat yang ada di dalam hati lenyap,pikiran telah diam tak
mengembara lagi,senyap dari segala ILUSI…!! Suara nafas kini sudah tak terdengar lagi,suara Batin tatkala kita melantunkan Dzikir pun telah hilang dan lenyap yang ada hanyalah CAHAYA
KEHENINGAN.Dalam kondisi demikian hanya SUARA ( Qalam ) Illahi yang bisa
masuk dan terekam.He..he…halah..halah….jangan-jangan itu suara SYETAN terkutuk yang
sengaja menggoda kita…? Jangan-jangan itu suara IBLIS yang menyelinap di dalam Hati kita…?? begitu bisikan keragu-raguan yang biasanya ada di dalam benak kita.Syetan,iblis atau apapun namanya TIDAK BAKALAN bisa masuk ke dalam rumah Tuhan ( QALBU ),rumah yang telah dibersihkan dari segala kotoran daya-daya nafsu.Bukankah perasaan dalam
bermeditasi tadi telah SIRNA..?? Segala perasaan IRI,DENGKI,CEMBURU dan MARAH telah berubah menjadi KEHENINGAN…??Hasrat hati dan BIRAHI telah sirna bahkan Angan-anganpun sudah tiada,tak ada lagi sarana dan wahana bagi si syetan dan iblis
untuk masuk dalam Hati ( QALBU ) yang sudah “ Hening dan Heneng “.Kondisi meditasi,dzikir,kontemplasi yang sudah mencapai “ hening dan heneng “ ( diam dan jernih ) tanpa adanya usikan apapun inilah yang dinamakan oleh orang Jawa sebagai “ Sekar Jempina “ Sebuah keadaan yang Jem (tenang,tentram),pi
( sunyi,sepi,tersembunyi ),na ( diam dan berhenti ).Dengan demikian puncak daripada Semedi,Kontemplasi dan Dzikir
adalah tercapainya kondisi yang Jempina...

Kedua:
Semedi,dzikir,Meditasi atau Kontemplasi merupakan cara untuk membersihkan diri dari program lama yang masih melekat pada pita kaset kehidupan ini.Pita hidup ini harus diisi dengan program yang lebih baik tentunya.Program lama diisi dengan
Dzikir ( mengingat ) dan program baru harus disikan,melalui perbuatan “ Amal Shaleh “ berupa segala tindakan dan perbuatan yang bermanfaat,baik bagi diri kita maupun bagi orang lain dan
lingkungannya.Dalam hidup ini semua kenangan pahit harus dikubur dalam-dalam.Selama Semedi,Meditasi,Dzikir atau Kontemplasi pita hidup harus dibersihkan dan dikosongkan agar
QALAM Illahi yang tanpa suara dan kata-kata itu bisa terekam oleh KESADARAN DIRI.Selanjutnya akan bersemilah benih-benih CINTA KASIH dan KERINDUAN untuk berbuat KEBAJIKAN terhadap sesama.Secara lahiriah Kebajikan itu dibuktikan dengan “ Budi Pekerti “ yang Hanif,Arif dan Ma’ruf dalam bersosialisasi dengan kelompok masyarakat.Misalkan saja kita
harus taat hukum ( aturan ) bagi siapa saja.Kesadaran Diri ( Sukma Jati,Diri Sejati,Sirr ) keberadaanya akan selalu
berdampingan dengan yang namanya “ angan-angan dan keinginan “ karena angan-angan dan keinginan ini terbit dan
keluar dari adanya RASA.Dalam hidup ini,angan-angan dan keinginan merupakan pasangan hidup dari Diri Sejati.Ia senantiasa mengikuti sang Diri,baik dalam kehidupan sekarang
ini maupun nanti setelah mati.Angan-angan dan keinginan tak pernah sirna,ia merupakan bagian dari pada hidup.Bukankah hidup tak pernah mati…?? Yang mengalami mati itu hanyalah Jasad badan kasar yang dikubur dalam tanah.Sukma Jati ( Diri
sejati,Sirr ) tidak akan ikut mati ia tetap “ Langgeng tan keno Owah-Gingsir ing kahanan jati “ Jika sudah menyelesaikan
tugasnya sebagai Khalifah di bumi,yah..ia akan kembali kepada Hyang Moho Tunggal,kembali ke Hadirat-Nya di alam
kedamaian Puncak..!!. Sebagaimana firman Tuhan bahwa “ segala yang berasal dari-Nya akan kembali kepada-Nya “ dan siapa yang bener-bener akan kembali ke Hadirat-Nya..??
(QS. Al Fajr 27-30) telah menjawab dengan tegas.Hanya Jiwa yang tenang
saja yang akan kembali ke Hadirat-Nya…!.Bila angan-angan dan keinginan itu terus menerus dituruti,ia semakin lengket pada sang Sukma Jati dan sulit untuk bisa ditinggalkan.Meskipun Jasad badan kasar telah mati dan terkubur dalam tanah,namun ia akan terus melekat pada sang Sukma Jati.Jika dalam kehidupan di Bumi angan-angan dan keinginan ini telah menyesatkan manusia,maka setelah matinya Jasad badan kasar tadi sang Sukma Jati akan mengalami Kesesatan.Perilaku buruk merupakan produk dari angan-angan
dan pikiran yang kotor.Pekerti yang buruk merupakan wujud dari keinginan yang tidak bener.Angan-angan,pikiran dan tingkah laku yang buruk melekat pada sang Sukma Jati.Dan,mungkinkah Sukma Jati,Diri Sejati,Sirr yang telah TERSESAT
selama di dunia ini akan bisa kembali di Hadirat-Nya…??

Ketiga:
Bila semedi,meditasi atau kontemplasi yang dilakukan benar-benar sempurna.Angan-angan,keinginan,pikiran dan ilusi telah lenyap,maka batin sang meditasi akan sentosa.Dia bebas dari segala macam gangguan batin.Kecemasan dan kekhawatiran
juga lenyap.Tak ada lagi ketakutan dimana-mana sama saja yang ada hanyalah ketenangan dalam hidup.Di Kota dan di desa tiadalah berbeda hidup serasa merdeka.Karena sama-sama dalam perlindungan Gusti Hyang Moho Tunggal.Jika sudah demikian akan tumbuh dan berkembanglah sebuah sikap untuk “ Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng “ terhadap Alam
semesta ini.Jika ungkapan ini terwujud,maka tiada lagi petaka dan bencana.Jika bumi ini tetap terpelihara dan dijaga keseimbangannya,bumipun akan tumbuh dengan subur dan tentunya akan memberikan berkah dan kemakmuran bagi manusia.Manusia-manusianya akan hidup dalam ketentraman dan kesenangan.Pikiran jernih,keinginan hanya sebatas yang
dibutuhkan oleh diri dan keluarga serta bangsa.Akhirnya sang Sukma Jati pun akan meninggi dalam keheningan yang
menyelimuti sang pelaku semedi,dzikir,meditasi atau kontemplasi.Jiwanya akan selalu dalam kedamaian.Dengan demikian hidup di dunia dan akherat senantiasa dalam
kesejahteraan ( khazanah ) dan akan dijauhkan oleh API BATINIAH yang menyala-nyala dan menjilat-njilat.........

(Olah Kepribadian Agoeng Deworuci,Malem Kamis Legi 25/02/2015)

Senin, 18 Januari 2016

" AJARAN SYECH SITI DJENAR & KEJAWEN DALAM MEMANDANG KETUHANAN,DOSA/NERAKA,PAHALA/SURGA "

PERBANDINGAN ANTARA AJARAN SYECH SITI DJENAR & PANDANGAN KEJAWEN

Mengenai Ketuhanan,Alam,dan Manusia

Syech Siti Djenar (Lemah Abang) dalam Mengenal Tuhan Ajaran Siti Jenar memahami Tuhan sebagai ruh yang tertinggi,ruh maulana yang utama,yang mulia yang sakti,yang suci tanpa kekurangan.Itulah Hyang Widhi,ruh maulana yang tinggi dan suci menjelma menjadi diri manusia.Hyang Widhi itu di mana-mana,tidak di langit,tidak di bumi,tidak di utara atau selatan.Manusia tidak akan menemukan biarpun keliling dunia.Ruh maulana ada dalam diri manusia karena ruh manusia sebagai penjelmaan ruh maulana,sebagaimana dirinya yang sama-sama menggunakan hidup ini dengan indera,jasad yang akan kembali pada asalnya,busuk,kotor,hancur,tanah.Jika manusia itu mati ruhnya kembali bersatu ke asalnya,yaitu ruh maulana yang bebas dari segala penderitaan.Lebih lanjut Siti Jenar mengungkapkan sifat-sifat hakikat ruh manusia adalah ruh diri manusia yang tidak berubah,tidak berawal,tidak berakhir,tidak bermula,ruh tidak lupa dan tidak tidur,yang tidak terikat dengan rangsangan indera yang meliputi jasad manusia.Syeh Siti Jenar mengaku bahwa, “ aku adalah Allah,Allah adalah aku ”.Lihatlah,Allah ada dalam diriku,aku ada dalam diri Allah.Pengakuan Siti Jenar bukan bermaksud mengaku-aku dirinya sebagai Tuhan Allah Sang Pencipta ajali abadi,melainkan kesadarannya tetap teguh sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan.Siti Jenar merasa bahwa dirinya bersatu dengan “ruh” Tuhan.Memang ada persamaan antara ruh manusia dengan “ruh” Tuhan atau Dzat.Keduanya bersatu di dalam diri manusia.Persatuan antara ruh Tuhan dengan ruh manusia terbatas pada persatuan manusia denganNya.Persatuannya merupakan persatuan Zat sifat,ruh bersatu dengan Zat sifat Tuhan dalam gelombang energi dan frekuensi yang sama.Inilah prinsip kemanunggalan dalam ajaran tentang
Manunggaling Kawula Gusti atau Jumbuhing Kawula Gusti.Bersatunya dua menjadi satu,atau dwi tunggal.Diumpamakan wiji wonten salebeting wit .

*Pandangan Syeh Siti Djenar (Lemah Abang) Tentang Manusia

Dalam memandang hakikat manusia Siti Jenar membedakan antara jiwa dan akal.Jiwa merupakan suara hati nurani manusia yang merupakan ungkapan dari zat Tuhan,maka hati nurani harus ditaati dan dituruti perintahnya.Jiwa merupakan kehendak Tuhan,juga merupakan penjelmaan dari Hyang Widhi (Tuhan) di dalam jiwa,sehingga raga dianggap sebagai wajah Hyang Widhi.Jiwa yang berasal dari Tuhan itu mempunyai sifat zat Tuhan yakni kekal,sesudah manusia raganya mati maka lepaslah jiwa dari belenggu raganya.Demikian pula akal merupakan kehendak,tetapi angan-angan dan ingatan yang kebenarannya tidak sepenuhnya dapat dipercaya,karena selalu berubah-ubah...perbedaan karakter jiwa dan akal yang bertolak belakang dalam pandangan Siti Jenar,disebabkan oleh adanya garis demarkasi yang menjadi pemisah antara sifat hakikat jiwa dan akal-budi.Jiwa terletak di luar nafsu,sementara akal-budi letaknya berada di dalam nafsu.Mengenai perbedaan jiwa dan akal,dalam wirayat Saloka Jati diungkapkan bahwa akal-budi umpama kodok kinemulan ing leng atau wit jroning wiji (pohon ada di dalam biji).Sedangkan jiwa umpama kodok angemuli ing leng atau wiji jroning wit (biji ada di dalam pohon).
Bagi Syeh Siti Jenar,proses timbulnya pengetahuan datang secara bersamaan dengan munculnya kesadaran subyek terhadap obyek.Maka pengetahuan mengenai kebenaran Tuhan akan diperoleh seseorang bersama dengan penyadaran diri orang itu.Jika ingin mengetahui Tuhanmu,ketahuilah (terlebih dahulu) dirimu sendiri.Syeh Lemah Abang percaya bahwa kebenaran yang diperoleh dari hal-hal di atas ilmu pengetahuan,mengenai wahyu dan Tuhan bersifat intuitif.Kemampuan intuitif ini ada bersamaan dengan munculnya kesadaran dalam diri seseorang.

*Pandangan Syeh Lemah Abang Tentang Kehidupan Dunia

Pandangan Syeh Siti Jenar tentang dunia adalah bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya adalah mati.Dikatakan demikian karena hidup di dunia ini ada surga dan neraka yang tidak bisa ditolak oleh manusia.Manusia yang mendapatkan surga mereka akan mendapatkan kebahagiaan,ketenangan,kesenangan.Sebaliknya rasa bingung,kalut,muak,risih,menderita itu termasuk neraka.Jika manusia hidup mulia,sehat,cukup pangan,sandang,papan maka ia dalam surga.Tetapi kesenangan atau surga di dunia ini bersifat sementara atau sekejap saja,karena betapapun juga manusia dan sarana kehidupannya pasti akan menemui kehancuran.Syeh Siti Jenar mengumpamakan bahwa manusia hidup ini sesungguhnya mayat yang gentayangan untuk mencari pangan pakaian dan papan serta mengejar kekayaan yang dapat menyenangkan jasmani.Manusia bergembira atas apa yang ia raih,yang memuaskan dan menyenangkan jiwanya,padahal ia tidak sadar bahwa semua kesenangan itu akan binasa.Namun begitu manusia suka sombong dan bangga atas kepemilikan kekayaan,tetapi tidak menyadari bahwa dirinya adalah bangkai.Manusia justru merasa dirinya mulia dan bahagia,karena manusia tidak menyadari bahwa harta bendanya merupakan penggoda manusia yang menyebabkan keterikatannya pada dunia.Jika manusia tidak menyadari itu semua,hidup ini sesungguhnya derita.Pandangan seperti itu menjadikan sikap dan pandangan Siti Jenar menjadi ekstrim dalam memandang kehidupan dunia.Hidup di dunia ini adalah mati,tempat baik dan buruk,sakit dan sehat,mujur dan celaka,bahagia dan sempurna,surga dan neraka,semua bercampur aduk menjadi satu.Dengan adanya peraturan maka manusia menjadi terbebani sejak lahir hingga mati .Maka Syeh Siti Jenar sangat menekankan pada upaya manusia untuk hidup yang abadi agar tahan mengalami hidup di dunia ini.Siti Jenar kemudian mengajarkan bagaimana mencari kamoksan (mukswa/mosca ) yakni mati sempurna beserta raganya lenyap masuk ke dalam ruh (warongko manjing curigo ).Hidup ini mati,karena mati itu hidup yang sesungguhnya karena manusia bebas dari segala beban dan derita.Karena hidup sesudah kematian adalah hidup yang sejati,dan abadi.Syeh Siti Jenar Mengkritik Ulama dan Para Santrinya,
Alasan yang mendasari mengapa Syeh Siti Jenar mengkritik habis-habisan para ulama dan santrinya karena dalam kacamata Syeh Siti,mereka hanya berkutat pada amalan syariat (sembah raga ).Padahal masih banyak tugas manusia yang lebih utama harus dilakukan untuk mencapai tataran kemuliaan yang sejati.Dogma-dogma,dan ketakutan neraka serta bujuk rayu surga justru membelenggu raga,akal budi,dan jiwa manusia.Maka manusia menjadi terkungkung rutinitas lalu lupa akan tugas-tugas beratnya.Manusia demikian menjadi gagal dalam upaya menemukan Tuhannya.Kritik Syeh Lemah Abang Atas Konsep Surga-Neraka.Konsep surga-neraka dalam ajaran Siti Jenar berbeda sekali dengan apa yang diajarkan oleh para ulama.Menurut Syeh Siti Jenar,surga dan neraka adalah dalam hidup ini.Sementara para ulama mengajarkan surga dan neraka merupakan balasan yang diberikan kepada manusia atas amalnya yang bakal diterima kelak sesudah kematian (akherat).Menurut Syeh Siti Djenar,orang mukmin telah keliru karena mengerjakan shalat jungkir balik,mengharap-harap surga,sedang surga sesudah kematian itu tidak ada,shalat itu tidak perlu dan orang tidak perlu mengajak orang lain untuk shalat.Shalat minta apa,minta rizki ? Tuhan toh tidak memberi lantaran shalat.Santri yang menjual ilmu dengan siapa pun mau menyembah Tuhan di masjid,di dalamnya terdapat Tuhan yang bohong.Para ulama telah menyesatkan manusia dengan menipu mereka jungkir balik lima kali,pagi,siang,sore,malam hanya untuk memohon-mohon imbalan surga kelak.Sehingga orang banyak tergiur oleh omongan palsunya,dan orang menjadi gelisah tak enak ketika terlambat mengerjakan shalat.Orang seperti itu sungguh bodoh dan tak tau diri,jikalau pun seseorang menyadari bahwa shalat itu dilakukan karena merupakan kebutuhan diri manusia sendiri untuk menyembah Tuhannya,manusia ternyata tidak menyadari keserakahannya;dengan minta-minta imbalan/hadiah surga.Orang-orang telah terbius oleh para ulama,sehingga mereka suka berzikir,dan disibukkan oleh kegiatan menghitung-hitung pahalanya tiap hari.Sebaliknya,lupa bahwa sejatinya kebaikan itu harus diimplementasikan kepada sesama (habluminannas).Lebih lanjut Syekh Siti Jenar menuduh para ulama dan murid mereka sebagai orang dungu dan dangkal ilmu,karena menafsirkan surga sebagai balasan yang nanti diterima di akhirat.Penafsiran demikian adalah penafsiran yang sangat sempit.Hidup para ulama adalah hidup asal hidup,tidak mengerti hakekat,tetapi jika disuruh mati mereka menolak mentah-mentah.Surga dan neraka letaknya pada manusia masing-masing.Orang bergelimang harta,hidupnya merasa selalu terancam oleh para pesaing bisnisnya,tidur tak nyeyak,makan tak enak,jalan pun gelisah,itulah neraka.Sebaliknya,seorang petani di lereng gunung terpencil,hasil bercocok tanam cukup untuk makan sekeluarga,menempati rumah kecil yang tenang,tiap sore dapat duduk bersantai di halaman rumah sambil memandang hamparan sawah hijau menghampar,hatinya sesejuk udaranya,
tenang jiwanya,itulah surga.Kehidupan ini telah memberi manusia mana surga mana neraka.Syeh Siti Jenar memandang alam semesta sebagai makrokosmos dan mikrokosmos (manusia) sekurangnya kedua hal ini merupakan barang baru ciptaan Tuhan yang sama-sama akan mengalami kerusakan,tidak kekal dan tidak abadi.Manusia terdiri atas jiwa dan raga yang intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan zat Tuhan.Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yang dilengkapi pancaindera,sebagai organ tubuh seperti daging,otot,darah,dan tulang.Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yang suatu saat,setelah manusia terlepas dari kematian di dunia ini,akan kembali berubah asalnya yaitu unsur bumi (tanah).Syeh Lemah Abang,mengatakan bahwa;
“ Bukan kehendak angan-angan,bukan ingatan,pikiran atau niat,hawa nafsu pun bukan,bukan pula kekosongan atau kehampaan.Penampilanku sebagai mayat baru,andai menjadi gusti jasadku dapat busuk bercampur debu,nafasku terhembus di segala penjuru dunia,tanah,api,air,kembali sebagai asalnya,yaitu kembali menjadi baru .Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia,manusialah yang memberi nama”.

*Kesimpulan Pandangan Syeh Siti Djenar ; tentang terlepasnya manusia dari belenggu alam kematian yakni hidup di alam dunia ini,berawal dari konsepnya tentang
ketuhanan,manusia dan alam.Manusia adalah jelmaan zat Tuhan.Hubungan jiwa dari Tuhan dan raga,berakhir sesudah manusia menemui ajal atau kematian duniawi.Sesudah itu manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian.Pada saat itu semua bentuk badan wadag (jasad) atau kebutuhan jasmaniah ditinggal karena jasad merupakan barang baru (hawadist) yang dikenai kerusakan dan semacam barang pinjaman yang harus dikembalikan kepada yang punya yaitu Tuhan sendiri.Terlepas dari ajaran Siti Jenar yang sangat ekstrim memandang dunia sebagai bentuk penderitaan total yang harus segera ditinggalkan rupanya terinspirasi oleh ajaran seorang sufi dari Bagdad,Hussein Ibnu Al Hallaj,yang menolak segala kehidupan dunia.Hal ini berbeda dengan konsep Islam secara umum yang memadang hidup di dunia sebagai khalifah Tuhan.

*Pandangan Kejawen Tentang Kehidupan di Dunia

Pandangan Kejawen tentang makna hidup manusia dunia ditampilkan secara rinci,realistis,logis dan mengena di dalam hati nurani;bahwa hidup ini diumpamakan hanya sekedar mampir ngombe,mampir minum,hidup dalam waktu sekejab,dibanding kelak hidup di alam keabadian setelah raga ini mati. Tetapi tugas manusia sungguh berat,karena jasad adalah pinjaman Tuhan.Tuhan meminjamkan raga kepada ruh,tetapi ruh harus mempertanggungjawabkan “barang” pinjamannya itu.Pada awalnya Tuhan Yang Mahasuci meminjamkan jasad kepada ruh dalam keadaan suci,apabila waktu “kontrak” peminjaman sudah habis, maka ruh diminta tanggungjawabnya,ruh harus mengembalikan jasad pinjamannya dalam keadaan yang suci seperti semula.Ruh dengan jasadnya diijinkan Tuhan “turun” ke bumi,tetapi dibebani tugas yakni menjaga barang pinjaman tersebut agar dalam kondisi baik dan suci setelah kembali kepada pemiliknya,yakni Gusti Ingkang Akaryo Jagad.Ruh dan jasad menyatu dalam wujud yang dinamakan manusia.Tempat untuk mengekspresikan dan mengartikulasikan diri manusia adalah tempat pinjaman Tuhan juga yang dinamakan bumi berikut segala macam isinya;atau mercapada.Karena bumi bersifat “pinjaman” Tuhan,maka bumi juga bersifat tidak kekal.Betapa Maha Pemurahnya Tuhan itu,bersedia meminjamkan jasad,berikut tempat tinggal dan segala isinya menjadi fasilitas manusia boleh digunakan secara gratis.Tuhan hanya menuntut tanggung jawab manusia saja,agar supaya menjaga semua barang pinjaman Tuhan tersebut,serta manusia diperbolehkan memanfaatkan semua fasilitas yang Tuhan sediakan dengan cara tidak merusak barang pinjaman dan semua fasilitasnya.Itulah tanggung jawab manusia yang sesungguhnya hidup di dunia ini; yakni menjaga barang “titipan” atau “pinjaman”,serta boleh memanfaatkan semua fasilitas yang disediakan Tuhan untuk manusia dengan tanpa merusak,dan tentu saja menjaganya agar tetap utuh,tidak rusak,dan kembali seperti semula dalam keadaan suci.Itulah “perjanjian” gaib antara Tuhan dengan manusia makhlukNya.Untuk menjaga klausul perjanjian tetap dapat terlaksana,maka Tuhan membuat rumus atau “aturan-main“ yang harus dilaksanakan oleh pihak peminjam yakni manusia.Rumus Tuhan ini yang disebut pula sebagai kodrat Tuhan;berbentuk hukum sebab-akibat.Pengingkaran atas isi atau “klausul kontrak” tersebut berupa akibat sebagai konsekuensi logisnya.Misalnya;keburukan akan berbuah keburukan,kebaikan akan berbuah kebaikan pula.Barang siapa menanam,maka mengetam.Perbuatan suka memudahkan akan berbuah sering dimudahkan.Suka mempersulit akan berbuah sering dipersulit.

*Konsep Kejawen Tentang Pahala dan Dosa dan Pandangan Kejawen tentang Kebaikan-Keburukan

Ajaran Kejawen tidak pernah menganjurkan seseorang menghitung-hitung pahala dalam setiap beribadat.Bagi Kejawen,motifasi beribadat atau melakukan perbuatan baik kepada sesama bukan karena tergiur surga.Demikian pula dalam melaksanakan sembahyang manembah kepada Tuhan Yang Maha Suci bukan karena takut neraka dan tergiur iming-iming surga.Kejawen memiliki tingkat kesadaran bahwa kebaikan-kebaikan yang dilakukan seseorang kepada sesama bukan atas alasan ketakutan dan intimidasi dosa-neraka,melainkan kesadaran kosmik bahwa setiap perbuatan baik kepada sesama merupakan sikap adil dan baik pada diri sendiri.Kebaikan kita pada sesama adalah KEBUTUHAN diri kita sendiri.Kebaikan akan berbuah kebaikan.Karena setiap kebaikan yang kita lakukan pada sesama akan kembali untuk diri kita sendiri,bahkan satu kebaikan akan kembali pada diri kita secara berlipat.Demikian juga sebaliknya,setiap kejahatan akan berbuah kejahatan pula.Kita suka mempersulit orang lain,maka dalam urusan-urusan kita akan sering menemukan kesulitan.Kita gemar menolong dan membantu sesama,maka hidup kita akan selalu mendapatkan kemudahan.Menurut pandangan Kejawen,kebiasaan mengharap dan menghitung pahala terhadap setiap perbuatan baik hanya akan membuat keikhlasan seseorang menjadi tidak sempurna.Kebiasaan itu juga mencerminkan sikap yang serakah,lancang,picik,dan tidak tahu diri.Karena menyembah Tuhan adalah kebutuhan manusia,bukan kebutuhan Tuhan.Mengapa seseorang masih juga mengharap-harap pahala dalam memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri..??Dapat dibayangkan,jika kita menjadi mahasiswa maka butuh bimbingan dalam menyusun skripsi dari dosen pembimbing,maka betapa lancang,serakah,dan tak tahu diri jika kita masih berharap-harap supaya dosen pembimbing tersebut bersedia memberikan uang kepada kita sebagai upah.Dapat diumpamakan pula misalnya;kita mengharap-harapkan upah dari seseorang yang bersedia menolong kita..???
Ajaran Kejawen memandang bahwa seseorang yang menyembah Tuhan dengan tanpa pengharapan akan mendapat pahala atau surga dan bukan atas alasan takut dosa atau neraka,adalah sebuah bentuk KEMULIAAN HIDUP YANG SEJATI .Sebaliknya,menyembah Tuhan,berangkat dari kesadaran bahwa manusia hidup di dunia ini selalu berhutang kenikmatan dan anugrah dari Tuhan.Dalam satu detik seseorang akan kesulitan mengucapkan satu kalimat sukur,padahal dalam sedetik itu manusia adanya telah berhutang puluhan atau bahkan ratusan kenikmatan dan anugerah Tuhan.Maka seseorang menjadi tidak etis,lancang dan tak tahu diri jika dalam bersembahyang pun manusia masih menjadikannya sebagai sarana memohon sesuatu kepada Tuhan.Tuhan tempat meminta,tetapi manusia lah yang tak tahu diri tiada habisnya meminta-minta.Dalam sikap demikian ketenangan dan kebahagiaan hidup yang sejati akan sangat sulit didapatkan.Sembahyang tidak lain sebagai cara mengungkapkan rasa berterimakasihnya kepada Tuhan.Namun demikian ajaran Kejawen memandang bahwa rasa sukur kepada Tuhan melalui sembahyang atau ucapan saja tidak lah cukup,tetapi lebih utama harus diartikulasikan dan diimplementasikan ke dalam bentuk tindakan atau perbuatan baik kepada sesama dalam kehidupan sehari-harinya.Jika Tuhan memberikan kesehatan kepada seseorang,maka sebagai wujud rasa sukurnya orang itu harus membantu dan menolong orang lain yang sedang sakit atau menderita.
Itu lah pandangan yang menjadi dasar Kejawen bahwa menyembah Tuhan,dan berbuat baik pada sesama bukanlah KEWAJIBAN (perintah) yang datang dari Tuhan,melainkan diri kita sendiri yang mewajibkan...

Olah Kepribadian Agoeng Deworuci di 1/3 Malem Jum'at Legi 26/02/2016

Bersumber dari Kitab Wirid Hidayat Djati karya R.M Ranggawarsita

Sabtu, 20 Juni 2015

KONTEMPLASI RAMADHAN - MELURUSKAN KONSEP BULAN SUCI

KONTEMPLASI RAMADHAN-MENCOBA MELURUSKAN KONSEP BULAN SUCI

*EMPAT DIMENSI SUCI*
Memasuki bulan suci Ramadhan,diawali dengan “siraman”
mensucikan raga dengan air ( sembah raga ),sekaligus sebagai
simbol pentingnya mensucikan pikiran dan hati ( sembah kalbu ),dan
mensucikan batin ( sembah jiwa ) dari segala hal yang dapat
mengotorinya,yang membuat POLUSI dalam hati,pikiran,dan batin
kita.Dengan target utama yakni hakekat hidup yang suci ( sembah
rahsa ).
*MASA TRAINING*
Umat muslim memiliki jadwal untuk memusatkan pelatihan diri
selama sebulan.Hanya satu bulan dalam setahun.Yakni pada bulan
suci Ramadhan yang pada hakekatnya adalah saat di mana menjadi
konsentrasi pelatihan diri selama sebulan.Dengan KESADARAN
bahwa bulan suci hanyalah sebagai pemusatan PELATIHAN DIRI
DALAM BERIBADAH,justru akan bermanfaat
besar menjadikan sikap kita semakin ELING dan WASPADA,bahwa
beribadah yang sejatinya adalah dalam praktek kehidupan sehari-
hari setelah bulan Ramadhan berlalu.
*ASUMSI TERBALIK*
Boleh saja berasumsi bahwa bulan suci merupakan puncak
ibadah.Namun kenyataannya asumsi itu banyak membuat umat jadi
TERLENA.Setelah bulan suci usai, ibarat seorang napi yang baru
saja lepas dari penjara.Berbaur dalam kehidupan masyarakat,menj
alani “laku” perbuatan sehari-hari dengan cara menggasak sana-sini
apapun yang ditemui dan di ingininya.Hanya
karena sikap mentang-mentang merasa sudah bukan bulan suci
lagi,lantas dianggapnya tidak lagi menjadi sakral.Kembali
mengumbar nafsu golek menange dewe,golek butuhe dewe,golek
benere dewe.
*BULAN SUCI YANG SESUNGGUHNYA*
Bagi saya pribadi,bulan puasa tidak lain sebagai pemusatan
pelatihan diri.Saya umpamakan sebagai Gathotkaca yang ingin
mbabar jati diri harus melewati “ tapa brata ” dengan tapa kungkum
direndam di dalam panasnya kawah candradimuka terlebih
dahulu.Sang Gathotkaca tidak pernah BERHARAP PAHALA manakala
menjalani tapa kungkum (berendam diri dalam air) di dalam kawah
candradimuka yang mendidih itu.Apa yang ia harapkan hanyalah
mencapai kesadaran diri yang tinggi ( highest
consciousness ).Kesadaran yang tinggi diperlukan sebagai BEKAL
dalam menjalani perBERIBADATan yang sesungguhnya.Yakni
menjalani kehidupan habluminannas setelah bulan suci
usai.Mempraktekan hasil
latihan dan gemblengan selama sebulan merupakan hal yang lebih
utama.Tanpa adanya keberhasilan dalam mempraktekan hasil dalam
kehidupan sehari-hari selama setahun,apa yang dicapai selama
sebulan hanyalah sia-sia belaka.
*POLA PIKIR YANG ANEH*
Logika dan konsep berfikir sang Gathotkaca sangat ideal,manakala
berfikir bahwa habluminannas atau beribadah kepada sesama
manusia dan seluruh makhluk ciptaan Hyang Widhi beserta seluruh
alam semesta ini merupakan JEMBATAN utama
menuju habluminallah.Sang Gatotkaca tidak terkecoh oleh mind
set sebaliknya,bahwa habluminallah sebagai sarana mengumpulkan
pahala sebanyak-banyaknya.Umat yang merasa sudah berhasil
mengumpulkan pahala yang banyak sehingga membuat lupa
diri,timbul sikap mentang-mentang gemar
melecehkan dan menuduh orang lain sebagai kafir dan
fasikun.Kesombongan itu hanya karena dirinya sudah merasa
mendapatkan malam lailatul qadar sebanyak 7 kali (7000 bulan)
yang kurang lebih diumpamakan sebagai sembahyang selama 560
tahun.Angka pahala itu tentu sudah lebih dari cukup,malah sisa
banyak sekali jika dibanding umur manusia.Yah,Sang Gathotkaca
merasa logika demikian sebagai sebuah kejahiliahan tersembunyi
dan sangat halus,sehingga membuat sang Gathotkaca sadar diri
perlu merubah mind set yang aneh itu.
*SIKAP “aneh” si TOGOG(SEMAR)*
Sang TOGOG(SEMAR)menambah kritikan lagi,togog menganggap
aneh
kenapa jalma manusia sibuk menghitung-hitung pahala.Padahal
apa yang dilakoninya hanyalah sebagai sarana latihan atau dalam
rangka menjalani sekolah.Togog menyuruh Mbilung mawas diri dan
melakukan instropeksi mendalam.Disuruhnya Mbilung
membayangkan,seandainya kita bersekolah,bukankah harus bayar
ke
pihak pengelola sekolahan??Kenapa logikamu justru terbalik Lung???
kamu malah minta dibayar atau diupah dari pihak sekolah.Wah,bet
ul-betul aneh kamu ya…??!sergah Togog kepada Mbilung.Togog
masih menyumpah-serapahing kegoblokan Togog….,”Enggak tahu
diuntung, nggak tahu diri kamu Lung!!Pantas saja kalau orang-orang
seperti dirimu itu akan kaget manakala ajal telah menjemput...!!!
Ternyata kesibukannya menghitung-hitung pahala sewaktu hidup
tidak berguna sama sekali.Justru membuat dirimu terlena dan tidak
eling,tidak waspada Lung...Mbilung sejenak mengernyitkan dahi lalu
bergumam,”… Ya,ya,aku pikir yang aneh bukan alam pikirmu Gog
..!,melainkan pikiran kebanyakan orang seperti aku selama ini.Hati-
hati kamu lho Lung…!! sahut Petruk kanthong bolong yang tiba-tiba
nongol ingin menantang Mbilung berkelahi seperti adat kebiasaan
mereka berdua jika bertemu.Kata Petruk dengan sok tahu,“ katanya
lebih banyak umat yang akan masuk neraka.Jangan-jangan gara-
gara masalah logika pikir yang aneh seperti alam pikirannya siMb
ilung…Lantas yang bener mungkin memang alam pikirannya si
Togog.Ya,paling tidak Togog bisa berperilaku dan ambil sikap lebih
hati-hati,eling dan waspada dari pada sikap si Mbilung yang sok
PeDe,sok tahu juga,dan besar kepala merasa sudah tak nggendong
kemana-mana pahala segede rumah.
*PANDANGAN JAWANISME*
Kegiatan di bulan suci ramadhan bukanlah klimaksnya rangkaian
“peribadatan” selama 11 bulan sebelumnya.Sebaliknya,bulan Puasa
merupakan PERSIAPAN diri menuju garis start (starting
point).Preparing to the starting point.Going to the real
game.Sebaliknya di mana sebagian orang menganggap bulan
ramadhan
sebagai PEMUNCAK segala “peribadatan”.Mind set itu akan
beresiko besar membuat diri menjadi lupa,bahwa perjuangan yang
sesungguhnya baru akan dimulai.Adalah sebuah teori Gossen
dimana setelah klimaks pasti akan terjadi anti klimaks.Klimaks
merupakan posisi di mana nilai kepuasan mencapai titik jenuh.Yang
kemudian nilai kepuasan akan meluncur ke bawah bagaikan roller
coaster sebagai gerak anti klimaks menuju kehambaran dan
kehampaan lagi.Maka dalam konsep tradisi Jawa,justru klimaks
dicapai pada saat bulan arwah,atau Bulan Ruwah,satu bulan
sebelum bulan puasa.Di mana dipuncaki dengan berbagai acara
misalnya bersih bumi,ruwat bumi,meliputi bersih-bersih
desa,sungai,hutan,sawah dsb.Ada dalam rangkaian tradisi
nyadran,dengan acara menghaturkan sembah bekti dan mendoakan
kepada para arwah leluhur masing-masing dengan harapan agar
beliau-
beliau mendapat tempat kemuliaan di alam keabadian.Semua itu
dilakukan sebagai langkah konkrit mensyukuri nikmat dan anugerah
Tuhan Yang Mahakuasa serta tanda terimakasih yang sebesarnya
kepada generasi pendahulu yang telah berhasil
menjaga kelestarian alam sehingga dapat mewariskan harta karun
berupa desa,sungai,hutan,laut,alam semesta dalam keadaan yang
baik dan tidak rusak.Setelah klimaks dipuncaki pada bulan
Ruwah,bulan selanjutnya,umat mulai menata diri,mawas
diri,melakukan evaluasi dan kontemplasi atas apa yang bisa
dilakukan selama ini.Coba bandingkan dengan ulah manusia sok
suci dan sok tahu di zaman sekarang ini???adoh sungsate…!!
*BULAN UNTUK BERPESTA PORA..??*
Siapa pun orangnya yang merasa sukses menjalani gemblengan
selama bulan puasa,perasaan itu hanyalah sekedar penilaian
subyektif terhadap diri sendiri.Bahkan saya menawarkan cara paling
sederhana mengukur tingkat keberhasilan anda menjalani ibadah
bulan suci ramadhan.Timbanglah berat badan anda pada saat
memasuki bulan ramadhan.Setelah itu,timbanglah lagi pada saat
sore hari setelah lebaran hari raya Iedul Fitri.Jika berat badan anda
mengalami kenaikan,hendaknya tidak perlu GR bahwa diri telah siiip
dan sukses menjalani gemblengan diri di
bulan suci.Apakah mayoritas umat Islam di Indonesia sukses
menjalani ibadah di bulan suci..???Saya sangat meragukan...!!!Coba
anda kontemplasi sejenak,bukankah harga sembako melambung
tinggi setiap memasuki bulan suci Ramadhan dari tahun ke
tahun,bahkan mengalami kenaikan harga hingga 50%.Hebat!!!Artinya
apa semua itu??masyarakat yang sedang menjalani ibadah
puasa,justru melakukan stokisasi,penumpukan cadangan
sembako,bahkan sampai mengada-ada melebihi kebutuhan normal
sehari-hari pada bulan-bulan biasa.Tidak hanya itu saja,pelaku
puasa menuntut menu konsumsi makanan yang jauh lebih mewah
dibanding hari-hari biasa.Sehingga permintaan kebutuhan sembako
meningkat tajam,sementara jumlah barang tetap atau jika ada
tambahan stok pun tidak signifikan dengan kenaikan permintaan
barang-barang sembako,sehingga mengakibatkan
lonjakan harga yang relatif besar.Apakah dengan kondisi
demikian,anda masih tidak merasa malu mengatakan,”…. kita baru
prihatin,kita sedang latihan mengendalikan nafsu,kita sedang
menjalani ibadah suci !!.Apakah kesucian identik dengan
pemborosan dan kemewahan yang berlebihan..???Marilah kita rubah
MIND SET “hebat” tersebut dengan meningkatkan kesadaran jati
diri,eling dan waspada.Mungkin fenomena itu
merupakan gambaran perilaku massal sok suci,sok soleh solikhah
yang menjangkiti umat tanpa disadari.Adalah kenyataan,bahwa
bulan ramadhan merupakan bulan berpesta,bahkan seolah bulan
di mana umat mendapat legitimasi untuk berbuat secara
berlebihan...Rahayu Sagung Dumadi
(Olah Kepribadian Agoeng Deworuci,Sabtu Kliwon 20 Juni 2015)

Minggu, 19 April 2015

" WIRID PURBA JATI (mengenali jati diri) - Hakekat Neng Ning Nung Nang "

"WIRID PURBA JATI (MENGENALI JATI DIRI) Hakekat Neng,Ning,Nung,Nang"

Siapa sejatinya diri kita sebagai manusia? Pertanyaan ini sederhana,dapat dikemukakan jawaban paling sederhana,maupun jawaban yang lebih rumit dan rinci.Jawaban masing-masing
orang tidak bisa diukur secara benar-salah.Cara menjawab siapa diri manusia hanya akan mencerminkan tingkat pemahaman seseorang terhadap kesejatian Tuhan.Hal ini sangat
dipermaklumkan karena berkenaan dengan eksistensi Tuhan sendiri yang begitu penuh dengan misteri besar.Upaya manusia mengenali Sang Pencipta,ibarat jarum yang menyusup ke dalam
samudra dunia.Yang hanya mengerti atas apa yang bersentuhan dengannya.Itupun belum tentu benar dan tepat dalam
mendefinisikan.Tuhan memang lebih dari Maha Besar.Sedangkan manusia hanya selembut molekul garam.Begitulah jika
diperbandingkan antara Tuhan dengan makhlukNya.Namun begitu kiranya lebih baik mengerti dan memahamiNya sekalipun hanya sedikit dan kurang berarti,ketimbang tidak sama sekali.

Secara garis besar dalam diri manusia memiliki dua unsur entitas yang sangat berbeda.Dalam pandangan ekstrim dikatakan dua unsur pembentuk manusia saling bertentangan satu sama lainnya.Tetapi kedua unsur tidak dapat dipisahkan,karena keduanya sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.Terpisahnya di antara kedua unsur pembentuk manusia akan
merubah eksistensi ke-manusia-an itu sendiri.Yakni di satu sisi terjadi kerusakan/pembusukan dan di sisi lain keabadian.Umpama batu-baterai yang memiliki dua dimensi berbeda yakni
fisiknya dan energinya.Kedua dimensi itu menyatu menjadi eksistensi batu-baterai berikut fungsinya.Dua unsur dalam
manusia yakni; immaterial dan material,metafisik dan fisik,roh dan jasad,rohani dan jasmani,unsur Tuhan dan unsur bumi (unsur gaib dan unsur wadag).Marilah kita urai satu persatu kedua unsur pembentuk eksistensi manusia tersebut.

1.Unsur Bumi
Jasad manusia wujudnya disusun berdasarkan unsur-unsur material bumi (air,tanah,udara,api).Unsur air dan tanah dalam tubuh terurai secara alami melalui proses ilmiah ( rumus ilmu pengetahuan manusia ) dan rumus alamiah ( yang sudah berproses melalui rumus-rumus buatan Tuhan).Unsur tanah dan air yang
sudah berproses akan berubah bentuk dan wujudnya sebagai bahan baku utama jasad yang terdiri dari empat unsur yakni;daging,tulang,sungsum dan darah.Sedangkan unsur udara akan
berproses menjadi kegiatan bernafas,lalu berubah menjadi molekul oksigen dalam darah dan sel-sel tubuh.Unsur api akan
menjadi alat pembakaran dalam proses produksi jasad,tenaga,energi magnetis,dan semua energi yang terlibat dalam memproses atau mengolah unsur tanah dan air menjadi bahan baku jasad.Jasad wadag menurut istilah barat sebagai body atau corpus,merupakan wadah atau bungkus unsur Tuhan dalam diri manusia.Unsur wadah tidak bersifat langgeng ( baqa’ ),sebab unsur wadah terdiri dari bahan baku bumi,maka ia terkena rumus mengalami kerusakan sebagaimana rumus bumi.Unsur Tuhan
Sebaliknya,unsur Tuhan bersifat kekal abadi tidak terjadi rumus kerusakan.Unsur Tuhan (Zat Tuhan) dalam tubuh manusia diwakili oleh metafisik manusia yakni unsur roh ( spirit atau spiritus ).Roh merupakan derivasi unsur Tuhan yang paling paling akhir dan paling erat dengan bahan baku metafisik manusia.Dan spirit diartikan sebagai
roh,ruh atau sukma.Roh bersifat suci (roh kudus/ruhul kuddus ),tidak tercemar oleh “polusi” dan kelemahan-kelemahan duniawi.Karakter roh adalah berkiblat atau berorientasi kepada martabat
kesucian Tuhan.Arti kata roh sangat berbeda dengan entitas jiwa ( soul ),hawa atau nafas ( nafs ),animus atau anemos (Yunani),dalam bahasa Jawa apa yang lazim disebut nyawa.Sekalipun berbeda istilah,tetapi memiliki makna yang nyaris sama.Pertemuan Unsur Bumi dan Unsur Tuhan Dalam tubuh manusia terdiri atas dua unsur besar yakni unsur bumi dan unsur Tuhan.Di antara kedua unsur tersebut terdapat “bahan penyambung”, dalam literatur barat disebut soul
atau jiwa (yang ini terasa kurang pas),Islam;nafs,Yunani;anemos,dan dalam bahasa Indonesia;hawa,Jawa;nyawa ( badan
alus ).Hawa,jiwa,anemos,soul,atau nyawa merupakan satu entitas yang kira-kira tidak berbeda maknanya,berfungsi sebagai media persentuhan atau “lem perekat” antara roh ( spirit ) dengan
jasad ( body / corpus ).Hawa,nafs,anemos,soul,jiwa,nyawa bermakna sesuatu yang hidup (bernafas) yang ditiupkan ke dalam corpus (wadah atau bungkus).Dalam khasanah hermeneutika dan bahasa yang ada di
nusantara tampak simpang siur dan tumpang tindih dalam memaknai jiwa,sukma,roh,dan nyawa.Ini sekaligus
membuktikan bahwa memahami unsur Tuhan dalam diri manusia memang tidak sederhana dan semudah yang disebutkan.Karena obyeknya bersifat gaib,bukan obyek material.Cara pandang dan penafsiran dari sisi yang berbeda-beda,menimbulkan konsekuensi
beragamnya makna yang kadang justru saling kontradiktif.Dengan alasan tersebut akan saya coba paparkan lebih jelas pemetaan tentang jiwa atau hawa dari sudut pandang budi-daya yang
diperoleh melalui berbagai pengalaman obyek metafisika,dan intuisi,agar lebih netral dan mudah dipahami oleh siapa saja tanpa membedakan latar belakang agama.Dengan asumsi tersebut diperlukan perspektif yang sederhana namun mudah dipahami.Saya akan memaparkan melalui perspektif Javanisme atau kejawen,dengan cara penulisan yang sederhana dan
“ membumi ”.

*Hubungan Unsur Tuhan dengan Unsur Bumi Dalam Laku Prihatin

Setiap bayi lahir memiliki tingkat kesucian yang dapat diumpamakan sebagai kertas putih bersih.Kesucian berada dalam wahana nafs atau hawa yang masih bersih belum tercemar oleh
“polusi” keduniawian.Hawa/nyawa/nafs diuji bolak-balik di antara dua kutub;yakni kutub jasmaniah yang berpusat di jasad ( corpus ) dan kutub ruhaniyah yang berpusat pada roh ( spirit ).Unsur roh
bersifat suci dan tidak tersentuh oleh kelemahan-kelemahan material duniawi (dosa).Roh suci sebagai “ utusan ” Tuhan dalam diri manusia yang dapat membawa ketetapan/pedoman hidup.Sehingga roh dapat berperan sebagai obor yang memancarkan
cahaya ( spektrum ) kebenaran dari Tuhan.Dalam perspektif Jawa roh suci (utusan Tuhan) tidak lain adalah apa yang disebut sebagai Guru Sejati.Guru Sejati tampil sebagai juru nasehat untuk
hawa,jiwa atau nafs .

*Hawa Nafsu ; Ibarat Satu Keping Mata Uang

Hawa ( nafs ) atau jiwa yang tunduk kepada roh suci ( guru sejati ) akan menghasilkan hawa ( nafs ) yang disebut nafsu positif –meminjam istilah Arab— sebagai an-nafs al-muthmainah.Sebaliknya jiwa atau hawa yang tunduk pada keinginan jasad
disebut sebagai nafsu negatif.Nafsu negatif terdiri tiga macam;nafsu lauwamah (kepuasan biologis;
makan,minum,tidur dst),nafsu amarah (amarah/angkara murka),dan nafsu sufiyah (mengejar kenikmatan psikis;contohnya seks,sombong,narsism,gemar dipuji-puji).Hawa memiliki dua kutub nafsu yang bertentangan ibarat satu keping mata uang yang memiliki dua sisi.Akan tetapi kedua sisi tidak dapat dipisahkan atau dilihat secara berbarengan. Apabila kita ingin menampilkan gambar angka,maka letakkan nilai nominal di sisi atas,sebaliknya jika kita berkehendak
melihat gambar burung kita letakkan gambar angka di bawah.Apabila seseorang mengaku bisa melihat kedua sisi satu keping mata uang dalam waktu yang sama,maka seseorang dikatakan
berjiwa munafik alias kehidupan yang palsu hanya berdasarkan pengaku-akuan bohong.

*Manusia Bebas Memilih

Pada setiap bayi lahir,Tuhan telah menciptakan hawa dalam keadaan putih/suci.Manusia memiliki kebebasan menentukan apakah hawa nafsunya akan berkiblat kepada kesucian yang bersumber pada roh suci ( ruhul kuddus ),atau sebaliknya ingin berkiblat kepada kemungkaran jasad/raga (unsur
duniawi).Apabila seseorang berkiblat pada kemungkaran akan menjadi seteru Tuhan dan memiliki konsekuensi (dosa/karma/hukuman) yang akan dirasakan kelak setelah menemui ajal
(akhirat),bisa juga dirasakan sewaktu masih hidup di dunia.Maka peranan semua agama yang ada di muka bumi adalah pendidikan yang ditujukan kepada hawa/nafs/jiwa manusia agar selalu
berkiblat kepada rumus Tuhan atau qodratullah.Sumber dari ilmu
dan “rumus Tuhan” ( qodratullah ) bisa kita temukan dalam “perpustakaan” atau gudang ilmu yang terdekat dengan diri kita,yakni roh suci (Ruhul-Kuddus/Guru-Sejati/Sukma-Sejati/Rahsa-Sejati).Kadang kala Tuhan Maha Pemurah menganugerahkan
seseorang untuk mendapat “bocoran soal” akan rahasia “ilmu Tuhan” melalui pintu hati ( qalb ) yang di sinari oleh cahyo sejati (nurullah).Yang lazim disebut sebagai ungkapan dari (hati)
nurani.Petunjuk dari Tuhan ini diartikan sebagai wirayat,wahyu,risalah,sasmita gaib,ilham,wisik dan sebagainya.

*Laku Prihatin adalah Jihad Sejati

“Penundukan” roh terhadap hawa nafsu negatif adalah penundukkan terhadap segala yang berhubungan dengan material (syahwat) atau kenikmatan ragawi.Dengan kata lain yakni
penundukan unsur “Tuhan” terhadap unsur bumi.Dalam ilmu Jawa dikatakan sebagai jiwa yang tunduk pada kareping rahsa/rasa sejati (kehendak Guru Sejati/kehendak Tuhan),serta meredam rahsaning karep (kemauan hawa nafsu negatif).Segenap upaya yang mendukung proses “ penundukan ” unsur Tuhan
terhadap unsur bumi dalam khasanah Jawa disebut sebagai laku prihatin.Dengan laku prihatin,seseorang berharap jiwanya tidak dikendalikan oleh keinginan jasad.Maka di dalam khasanah
spiritual Kejawen,laku prihatin merupakan syarat utama yang harus dilakukan seseorang menggapai tingkatan spiritualitas sejati.Seperti ditegaskan dalam serat Wedhatama (Jawa;Wredhotomo ) karya KGPAA Mangkunegoro IV;bahwa ngelmu iku
kalakone kanthi laku.Laku prihatin dalam istilah Arab sebagai aqabah,yakni jalan terjal mendaki dan sulit,karena seseorang
yang menjalani laku prihatin harus membebaskan diri dari perbudakan syahwat dan hawa nafsu yang negatif.Di mana ia sebagai sumber kenikmatan keduniawian.Maka apa yang disebut
sebagai Jihad yang sesungguhnya adalah perang tanding di medan perang dalam kalbu antara nafsu positif melawan nafsu negatif.Disebut kemenangan dalam berjihad apabila seseorang telah berhasil “ meledakkan bom” di pusat kekuasaan setan ( hawa nafsu negatif) dalam hati
kita. “Bahan peledaknya” bernama laku prihatin dan olah batin ( wara’ dan amar ma’ruf nahi munkar ).

*Target Utama dalam “Berjihad” ( Laku Prihatin )

Perjalanan spiritual dalam bentuk laku prihatin,mempunyai target membentuk hawa nafsu positif atau nafsul muthmainnah.Karena si nafs atau hawa tersebut telah stabil dalam koridor
rumus Tuhan ( qodrat atau qudrah diri) atau dalam bahasa sansekerta lazimnya disebut sebagai swadharma.Roh yang
berada pada tataran pencapaian ini,dalam bahasa Ibrani,ruh disebut sebagai syekinah yang diturunkan ke dalam kalbu dan berhasil merebut ( amr) kebaikan ( ma’ruf ).Jika hawa tidak berdaya karena kuatnya arus nafsu negatif yang dimasukkan jasad lewat
pintu panca indera,maka kepribadian manusia dikuasai oleh “milisi” kekuatan batin yang oleh Freud diberi nama ego Ego cenderung berkiblat pada jasad (duniawi).Maka sudah menjadi tugas hawa (id) untuk membangkang dari keinginan ego agar supaya membelot kepada kekuatan hawa positif (super ego).Hasilnya maka manusia dapat dikendalikan sesuai dengan kodrat
dirinya sebagai khalifah Tuhan.Jadilah manusia yang tetap berada pada orbitNya (qodrat/rumus Tuhan),yakni apa yang dimaksud menjadi titah jalma menungsa kang sejati,yaiku nggayuh
kasampurnaning gesang,(untuk meraih) sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu.Sangat terasa bahwa Tuhan sungguh lebih dari Maha Adil,setiap manusia tanpa kecuali dapat menemukan Tuhan melalui pintu nafs,jiwa,atau hawanya masing-masing,karena Tuhan telah membekali jiwa manusia akan kemampuan menangkap sinyal-sinyal suci dari Hyang Mahasuci.Sinyal suci yang diletakkan di
dalam rahsa sejati ( sirullah) dan roh sejati ( ruhullah ).Sudah merupakan rumus (Tuhan),apabila seseorang dapat meraih dharma -nya atau kodrat -dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan,maka kehidupannya akan selalu menemui kemudahan.Sebaliknya hawa nafsu negatif ( setan ) senantiasa menggoda hawa/nafs manusia agar supaya hawanya berkiblat kepada unsur bumi.

*Menjadi Pribadi yang Menang

Sepanjang hidup manusia selalu berada di dalam arena peperangan “Baratayudha/Brontoyudho” (jihad) antara kekuatan nafsu positif (Pendawa Lima) melawan nafsu negatif ( 100 pasukan Kurawa ).Perang berlangsung di medan perang yang bernama
“ Padang Kurusetra ” (Kalbu).Peperangan yang paling berat dan merupakan sejatinya perang ( jihad fi sabilillah ) atau perang di jalan kebenaran.Kemenangan Pendawa Lima diraih tidak mudah.Dan
sekalipun kalah pasukan Kurawa 100 selamanya sulit dibrantas tuntas hingga musnah.Maknanya sekalipun hawa nafsu positif telah diraih,artinya hawa nafsu negatif ( setan ) akan selalu mengincar kapan saja si hawa lengah.Kejawen mengajarkan berbagai macam cara untuk memenangkan peperangan besar
tersebut.Di antaranya dengan laku prihatin untuk meraih kemenangan melalui empat tahapan yang harus dilaksanakan secara tuntas.Empat tahapan tersebut dikiaskan ke dalam nada suara salah satu instrumen Gamelan Jawa yang dinamakan Kempul
atau Kenong dan Bonang yang menimbulkan bunyi; Neng, Ning,
Nung, Nang:
1. Neng; artinya jumeneng,berdiri,sadar atau bangun untuk melakukan tirakat,semedi,maladihening,
atau mesu budi.Konsentrasi untuk membangkitkan kesadaran batin,serta
mematikan kesadaran jasad sebagai upaya menangkap dan menyelaraskan diri dalam frekuensi gelombang Tuhan.

2. Ning; artinya dalam jumeneng kita mengheningkan daya cipta (akal-budi) agar menyambung dengan daya rasa-
sejati yang menjadi sumber cahaya nan suci.Tersambungnya antara cipta dengan rahsa akan membangun keadaan yang wening.Dalam keadaan “mati raga” kita menciptakan keadaan batin (hawa/jiwa/ nafs )yang hening,khusuk,bagai di alam “awang-uwung” namun jiwa tetap terjaga dalam kesadaran batiniah.Sehingga kita dapat menangkap sinyal gaib dari sukma
sejati .

3. Nung; artinya kesinungan.Bagi siapapun yang melakukan Neng,lalu berhasil menciptakan Ning,maka
akan kesinungan (terpilih dan pinilih) untuk mendapatkan anugrah agung dari Tuhan Yang Mahasuci.Dalam Nung
yang sejati,akan datang cahaya Hyang Mahasuci melalui rahsa lalu ditangkap roh atau sukma sejati,diteruskan
kepada jiwa,untuk diolah oleh jasad yang suci menjadi manifestasi perilaku utama ( lakutama ).Perilakunya selalu konstruktif dan hidupnya selalu bermanfaat untuk orang banyak.

4. Nang; artinya menang ; orang yang terpilih dan pinilih ( kesinungan ),akan selalu terjaga amal perbuatan baiknya,sehingga amal perbuatan baik yang tak terhitung lagi akan menjadi benteng untuk diri sendiri.Ini merupakan buah kemenangan dalam laku prihatin.Kemenangan yang berupa anugrah,kenikmatan,dalam segala bentuknya serta meraih kehidupan sejati,kehidupan yang dapat memberi manfaat (rahmat) untuk seluruh makhluk serta alam semesta.Seseorang akan
meraih kehidupan sejati,selalu kecukupan,tentram lahir batin,tak bisa dicelakai orang lain,serta selalu
menemukan keberuntungan dalam hidup ( meraih ngelmu beja ).

NENG adalah SYARIATnya...NING adalah TAREKATnya...NUNG adalah HAKEKATnya...NANG adalah MAKRIFATnya..........Ujung dari empat tahap tersebut adalah kodrat (sastrajendra hayuningrat pangruwating
diyu ).....

Olah Kepribadian Agoeng Deworuci,Senin Wage 20/04/2015)

Kamis, 26 Maret 2015

SHALAT/DZIKIR KHUSYU' atau HIDUP KHUSYU'...??? "

" SHALAT/DZIKIR KHUSYU' atau HIDUP KHUSYU'...??? "

"Mintalah pertolongan kepada ALLAH dengan sholat dan sabar,sesungguhnya yang demikian itu sangat berat kecuali bagi orang yang khusuk.Yaitu yang meyakini (telah dan akan) /selalu bertemu dengan Rabbnya (Penguasa Alam Semesta) dan mereka yang menjadikan ALLAH sebagai rujukan setiap hal" ( QS. Al – Baqarah 45 – 46 )

Khusuk adalah atribut yang melekat pada kehidupan(sholat dan sabar merupakan bagian dari kehidupan).Orang yang hidupnya khusuk akan senantiasa
memelihara perjumpaan dirinya dengan ALLAH,selalu memfokuskan diri kepada ALLAH,selalu mematuhi perintah ALLAH.Sebelum dan sesudah melakukan aktivitas selalu membaca doa dan menyadari sepenuhnya bahwa segenap tindak laku adalah perintah ALLAH.Sangat logis sekali jika orang yang hidup khusuk,sholat dan sabar bukan sesuatu yang memberatkan.Sia-sia jika kita berharap sholat khusuk tapi dalam hidup keseharian tidak khusuk
(cenderung permisif-serba boleh ,profan-terlalu bersifat duniawi,kering dari nilai-nilai & memperturutkan hawa nafsu).

Emangnya SHOLAT KHUSUK yang berupa gerakan berdiri,rukuk,sujud dan duduk takhiyat dan beberapa teknik yang kita kejar-kejar dan kita cari cari selama ini bisa menghantarkan kita untuk sampai ( Manunggal ) kepada Tuhan tanpa dibarengi AKSI,TINDAKAN dan PERBUATAN untuk ” Hamemayu Hayuning Bawono…??”.

Manusia sebagai HAMBA,ABDI,BATUR,JONGOS nya Tuhan harus memahami keberadaan kita akan MAKNA predikat sebagai ABDI.Jika tidak maka pergulatan,pencarian dan pemelukan manusia terhadap sebuah Agama berikut perintah ibadah yang ada di dalamnya hanya akan berhenti dan mandeg pada ” stasiun AKAL dan PIKIRAN ” ....paling banter yah,dalam
kapasitas ANGAN-ANGAN dan MIMPI.Jadi jangan “ Nggondhok,Mangkel dan Kecewa “ kalau serentetan ibadah ritual yang kita lakukan tak lebih dari sekedar SESEMBAHAN terhadap PIKIRAN,BUDI dan ANGAN-ANGAN kita semata,bukannya sesembahan yang sesungguhnya kepada sang Hyang Moho Tunggal.Untuk bahan perenungan dan mengetahui lebih jauh tentang pemahaman MAKNA menyembah ( sholat ) mari kita cermati sebuah konsep sesembahan dalam PUPUH Khazanah Jawa berikut ini :

Utamaning sariro puniko,…
Angaweruhono jatining salat,…
Sembah lawan pujine,…
Jatining salat iku Dudu Isa’ tuwin Maghrib,…
Sembahyang arane wenange puniku,…
Lamun aranono salat pan minongko kembangane salat,…
Ing aran toto kromo, …
Endi kang aran sembah sejati,…
Ojo manembah yen tan ketingalan,…
Temahe kasor kulane,…
Yen siro nora weruh Kang sinembah ing ndonya iki kadi anulup
kaga, …
Punglune den sawur manu-e mongso keno-o,…
Awekoso amangeran adam sarpin ,…
Sembahe siyo-siyo,…

Unggulnya diri itu Mengetahui hakekat sholat
Sembah dan pujian
Salat yang sebenarnya bukan mengerjakan salat Isa’ dan Maghrib
Itu namanya sembahyang
Apabila disebut salat,maka itu hanyalah hiasan dari salat da'im
Yang dinamakan TATA KRAMA
Manakah yang disebut salat yang sesungguhnya itu
Jangan menyembah bila tidak tahu yang disembah
Akibatnya akan direndahkan MARTABAT HIDUPMU
Apabila engkau ingin mengetahui yang disembah di dunia ini
Engkau seperti menyumpit burung
Pelurunya disebar kemana-mana tapi tidak ada satupun yang mengenai burungnya
Akhirnya cuma menyembah ANGAN-ANGAN
Penyembahan yang sia-sia tiada berguna

Sebagai manusia kita sudah semestinya harus memahami TUJUAN HIDUP ( Paraning Dumadi ) kita.Untuk mengetahui Tujuan hidup kita harus mengetahui EKSISTENSI kita,karena
eksistensi manusia tak akan bisa lepas daripada Tujuan hidup itu sendiri.Cuman permasalahannya adalah kita-kita ini juga gak inget mengapa kita harus hidup di dunia ini,hik..hik…adakah diantara saudara-saudaraku yang inget…?? Kita tidak ingat,mengapa kita ini harus hidup yah…mengapa kita sekarang ini ada
di sini..?? Jadi sangat wajar,lumrah,rasional dan logis kalau kita
sama-sama gak tahu tentang TUJUAN HIDUP kita he..he..Makanya dalam setiap ritual Sholat ada permohonan kepada Tuhan untuk ditunjukkan kepada JALAN LURUS yah gak..yah gak…??. Artinya apa..?? Kita ini manusia yang sama-sama TERSESATNYA….!! Maka saya kadang GELI,Mesam-mesem,kadang malahan TERPINGKAL-PINGKAL kalau ada
kelompok/golongan keyakinan tertentu beraninya memfonis orang lain SESAT,KAFIR,MUSYRIK….halah..halah…apa yah gak sadar toh kalau sendirinya tuh sebagai manusia yang sama-sama masih
TERSESATNYA di dunia ini..?? Amat banyak loh diantara kita ini yang mencari-cari TUJUAN HIDUP dari teks book Kitab Suci dan Hadis sebagai rujukannya.Yah..yah…mungkin saja kita bisa menemukannya disana.Namun yang LUCUNYA lah wong kita ini mau pingin menemukan TUJUAN HIDUP sendiri kok informasinya diperoleh dari luar DIRI.Ini kan sama saja dengan anak kecil yang ingin mengetahui namanya sendiri dan bertanya kepada orang yg gak dia kenal.Jika kita mau menelusuri Khasanah Jawa ( maaf karena saya orang Jawa ) ternyata tujuan hidup manusia takkan lepas dari apa yang dinamakan SELAMET.Terlepas dari berbagai dalil-dalil atau bahkan kata-kata FALSAFAH,hidup SELAMET adalah tujuan manusia.Yah kata orang Islam di Arab sono ” Khasanah Fiddunya wal Akhirat ” alias SELAMET di dunia dan Akherat serta terbebas dari API
NERAKA…!!.
Jika kita telisik lebih dalam makna SELAMET adalah AMAN,NYAMAN tak ada gangguan apa-apa,tidak menderita
dalam hidup ini,juga tidak mengalami KERUGIAN…!!Selamet juga memiliki makna ” WIDODO ” yaitu selamat dimana
saja,kapan saja selamanya.Suatu keselamatan yang TERBEBAS dari ruang dan waktu.Adalagi konsep RAHAYU yang masih digunakan sampai sekarang ini.Dalam konsep RAHAYU ini terkandung KEBENARAN,KEBAIKAN,KEBAJIKAN,KESELAMATAN dan KETEPATAN.Jadi
kehidupan yang RAHAYU dalam konsep Jawa adalah hidup yang ” Toto,Titi,Temtrem,Kerto,Raharjo ” ( teratur,tertib,nyaman,sejahtera dan sehat ) yang penuh kebajikan.Jadi tujuan hidup manusia adalah menempuh perjalanan.Berjalan kemana..?? Yah menuju HIDUP SEJATI…apa itu…? Hidup yang RAHAYU dan SELAMAT.Dan terlepas dari berbagai penafsiran tentang apa itu SELAMAT.Yang jelas selamat BUKAN ANGAN-ANGAN,HAYALAN atau sekedar kepercayaan.Selamat itu REALITAS..dan bukan CARITAS…!!,ia adalah keadaan atau kenyataan dalam hidup ini.Jika sekarang kita yang hidup di
negeri ini tidak merasakan RAHAYU itu menandakan masih banyak orang yang belum SELAMAT.

Hidup itu bersifat baru yang dilengkapi oleh adanya “ Panca indra “ yang sekaligus merupakan barang pinjaman dari Gusti Kang Hakaryo Jagad.Jikalau barang tersebut telah diminta kembali oleh si Empu-Nya,apa yang bisa kita perbuat…?? semua akan berubah menjadi tanah dan membusuk,hancur lebur dan
bersifat NAJIS .Oleh karena itu Panca indra TIDAK DAPAT kita pakai dan kita gunakan sebagai PEDOMAN dalam menjalani HIDUP….!!

Nafs,Budi,Pikiran,Angan-angan dan Kesadaran adalah satu wujud dengan Akal yang dapat menjadikan kita GILA,SEDIH,BINGUNG,TAMAK,RAKUS dan sering kali tidak JUJUR.Karena AKAL itu pula yang dalam siang dan malam sering mengajak kita IRI,DENGKI terhadap sesama demi kebahagiaan diri sendiri,bahkan tak jarang merusak kebahagiaan orang lain demi ISI PERUT.Dengki menyebabkan seseorang berbuat jahat,menimbulkan kesombongan.Dan,sering pula menyebabkan jatuh dalam lembah KENISTAAN.Yang pada gilirannya akan MENODAI nama dan citra Manusia itu sendiri.Jalan hidup manusia yang harus dilalui adalah jalan HATI ( batin ).Batin yang bisa mencapai KEBENARAN.Hati yang demikian haruslah terbebas dari berbagai penyakit atau kotoran.Tanpa pamrih dalam bertindak,tidak dengki dan mendengki.Hati yang pemaaf.Sombong….telah jauh-jauh hari sudah ditinggalkan.Jika hati sudah lurus itu akan tercermin dalam perilakunya,tercermin dalam tutur kata dan terefleksi dalam aura wajahnya.Terpantul dalam suara ketika berbicara.Dalam kondisi hati yang jernih seseorang akan dapat melihat jalan hidup yang harus dilaluinya.Inilah barangkali CERMINAN sekaligus
PENGEJAHWANTAHAN perilaku dari pada Hidup KHUSU’.Jadi…mana yang bernilai…?? Shalat/Dzikir Khusu’ atau Hidup Khusu’…??? Terserah masing-masing anda menilai dan menjalaninya.............

Maksud hati yang sudah sampai pada Kebenaran,Kotoran yang telah sirna dari Jasad,Mencegah segala keburukan,Bagaikan tubuh yang Jelita,Yang demikian itu jika telah sampai pada luar dan dalamnya,Akhirnya seimbang,Bersih,jernih,tanpa campuran,Akhirnya dapat dikatakan,Lenyap sudah sifat AWAM manusianya...............

(Olah Kepribadian Agoeng Deworuci Malem Jum'at Kliwon 26/03/2015)

Kamis, 19 Maret 2015

Agama Yang Salah Ataukah Manusianya...???

" Agama yg Salah Ataukah Manusianya "

Jika sering terdengar/terlihat berita-berita atau kejadian yang rada-rada memancing naiknya adrenalin luapan emosi ”kebencian”,khususnya bagi kita-kita yang beragama dengan label formal tertentu,karena berita atau kejadian tersebut sangat kental sekali nuansanya telah didominasi oleh ”ego dan emosionalnya ” sehingga nuansanya menjadi subyektif ketimbang dominasi ”nurani ” dan penuh ”provokasi” berusaha mencari “keburukan” dan menanamkan kebencian kepada orang lain( bangsa dan agama lain )dan bahkan didalam lingkup agama itu sendiri.Kalaulah bisa mungkin saya sebut begitu.Secara definisi agama yang saya jiplak ( dari Wikipedia saya kutip sebagai berikut ) : Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “a”
yang berarti tidak dan “gama” yang berarti kacau.Secara entomologis,agama berarti situasi yang tidak kacau.Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin dan berasal dari kata kerja “re-ligare” yang
berarti “mengikat kembali”.Maksudnya dengan berreligi,seseorang akan berusaha mengikat kembali dirinya kepada Tuhan.Kalau boleh saya berpendapat bahwa agama itu suatu tuntunan hidup dalam peradaban manusia sebagai hamba dari Tuhannya.Hal itu bisa saja berupa ” Kepercayaan ataupun Keyakinan ” dengan tujuan agar manusia tetap berjalan dalam KEBAIKAN dan
KEBAJIKAN diantara satu dengan yang lainnya,antara manusia dengan binatang dan antara manusia dengan alam.Dari mana tuntunan itu diperoleh? Dari orang-orang yang berusaha mendapatkan hubungan dengan Tuhannya hingga mendapatkan petunjuk yang diyakininya sebagai jalan menuju kebenaran,yaitu
jalan menuju Tuhan.Merekalah para nabi atau rasul atau mungkin ada istilah lain untuk menyebutkan orang-orang
semacam ini.Para penyampai agama ( petunjuk ) ini semula tidak memasang “merk” suatu komunitas atau kelompok tertentu yang membedakan mereka dari orang lain.Mereka hanya menyampaikan suatu ajaran dan para pengikutnya yang kemudian hari setelah jumlahnya menjadi banyak membentuk kelompok tertentu yang populer akhirnya dengan sebutan agama A,agama B,Yayasan X atau Yayasan Z,dsb...yang pada dasarnya adalah SIMBOL-SIMBOL semata agar mudah diketahui dan dikenang.Jadi sifat tak lebih dari sekedar hanya sebagai identitas belaka.Tuntunan yang disampaikan oleh para pembawa agama
( petunjuk ) semuanya membawa kepada KEBAIKAN dan KEBAJIKAN,namun karena perbedaan ” label formalitas ” dan
dalam kegiatan ” ritual ” serta visi pemahaman agama dan adanya
berbagai macam kepentingan kelompok dan golonganlah yang membuat para pengikutnya ditambah oleh hasutan iblislah yang menjadikan “bertentangan” , dan menganggap mereka yang tidak
seagama,tidak sejalan,tidak seiman,tidak sealiran,disebut “kafir” yang harus dimusuhi dan kalau bisa diberangus dari muka bumi ini.Sehingga esensi dari agama itu sendiri menjadi ” bias,kabur ”
dan terlupakan inti sari patinya,karena disibukkan dengan usaha menonjolkan kebenaran kelompok dan golongan tentang konsep pemahaman masing-masing guna menarik pengikut sebanyak-
banyaknya tanpa memperdulikan tujuan inti saripati semula dari agama tersebut yang nota bene ” kebenarannya ” masih sangat relatif atau mungkin malah tidak pasti kebenaran dan kenyataannya….!!!Pertikaian pemahaman dan keyakinan rasanya sudah lama terjadi ketika awal mula didengungkan
penyebarannya,bukan hanya terjadi antar kelompok pemeluk agama,tetapi di dalam kelompok pemeluk agama itu sendiri juga
terjadi perpecahan,keributan yang tak jarang sampai terjadi pertumpahan darah.Apakah yang menjadi penyebabnya….???? ya
…. sama …. dari awal mula adanya label formalitas agama hingga kini,karena berebut predikat status ” KLAIM KEBENARAN ” merasa diri dan kelompoknyalah yang paling benar…..!!!!. He..he…manusia ( kelompok ) yang demikian ini sesungguhnya telah menjadi
korban akibat ” ketidak tepatan ” dalam mengkonsumsi dan memahami makna sebuah AGAMA,makna AJARAN dan makna sebuah teks book Kitab Suci yang terlanjur dipercayainya melebihi
kepercayaannya terhadap adanya Tuhan itu sendiri.Secara tidak sengaja dan tak sadar kita telah TERJEREMBAB JATUH pada suatu kehidupan dengan POLA PENGKULTUSAN….!! bahwa
AGAMA,SYARIAT,THAREQAT,HAKEKAT dan MAKRIFAT serta teks book Kitab Suci bahkan seorang Guru Pembimbingpun
( Mursyid ) telah kita JADIKAN TUHAN…..!!. Lho…lho…masak ada manusia jadi korban teks book sebuah Kitab Suci…???lihat saja orang-orang yang gemar mengaplikasikan makna JIHAD dengan MEMBERANGUS
kelompok/golongan yang tidak selebel,merusak harta benda milik
orang lain,menutup Warung orang-orang yang lagi cari nafkah,memukuli orang-orang memiliki keyakinan lain.Malahan ada yang EKSTREM banget membunuh sesama manusia dengan menjadikan
dirinya sebagai sarana nempelin BOM atau istilah umumnya BOM BUNUH DIRI…haaaaaaaaaa..haaaaaaaaa….konyolnya itu semua dilakukan demi mengejar-ngejar PAHALA dan SURGA katanya.Kondisi semacam inilah secara tak sadar menunjukkan bahwa kita-kita sebenarnya masih belum ” beragama ” tetapi baru saja mengenal sebuah agama.Jika kita betul-betul mau mencoba ” metani,menggeledah dan mau untuk instropeksi DIRI ” akan
kedangkalan kita dalam banyak hal,rasanya dengan banyak mengembara menelusuri kisi-kisi kehidupan di alam raya ini,ternyata ayat-ayat Tuhan emang sudah TERHAMPAR memenuhi jagad raya dan kita tinggal memungutinya sesuai dengan kemampuan dan keperluan kita tentunya.Faktanya memang kita telah menjadi komunitas manusia beragama secara label formalitas yang dalam beraksi dan bertindak tidaklah lebih dari sekedar sekumpulan manusia yang ” memperturutkan hawa nafsu ” manusia hedonisme yang hidup penuh dengan mimpi-mimpi di alam khayali….!!!.Seharusnya,sedari saat ini lebih baik kita menggali kembali esensi dari agama yang disampaikan oleh para
Nabi dan Rasul,agar kita dapat menemukan kebenaran sejati,tanpa sibuk memburuk-burukan orang lain,bangsa lain dan lagian apa sih untungnya buat kita dengan memvonis agama lain sebagai agama yang SESAT dan KAFIR…???.Bukankah Tuhan sudah
mengingatkan kepada manusia untuk ” TIDAK SALING MENGOLOK-OLOK terhadap SUATU KAUM…???”yang pada akhirnya malah akan menjerumuskan kita pada kebencian dan permusuhan antara sesama makhluk ciptaan Tuhan.Beribadah secara sungguh-
sungguh pasrah dan ikhlas semata-mata hanya mengharap RIDHO-Nya,serta jalanilah tuntunan kebenaran yang masing-masing diyakini akan membawa cahaya kedamaian bagi semesta alam dan segala isinya.Tak perduli apakah namanya Islam,Katholik,Protestan,Budha,Hindu,jika anda meyakini kebenarannya maka jalanilah….!!!dengan sungguh-sungguh,bukan hanya sebagai pelengkap identitas dalam KTP atau hanya sekedar
pelengkap dan ciri lahiriah yang ditampak-tampakkan religius,melainkan benar-benar untuk mendapatkan tuntunan hidup dan jalan yang lurus ( ihdinas siratal mustaqim ) di dunia ini.Ingatlah perjuangan dan pengorbanan para penyampai agama.Perjuangan Nabi Musa mendapatkan firman Tuhan,Kerelaan Yesus menjadi
penebus dosa untuk ummatnya ( bagi pemeluk yang meyakininya ),Pengasingan Nabi Muhammad di Gua Hira,Pengorbanan Sang Budha dan lainnya.Mereka adalah orang-orang SPIRITUAL luar biasa yang berjuang mengorbankan dirinya guna meraih tuntunan jalan yang lurus dari Tuhan demi umat manusia yang TERPANGGIL untuk mengikutinya.Sekarang jalan itu bagi kita para generasi penerusnya sudah banyak tersedia.Kita tinggal memilih mana yang cocok untuk kita yakini,atau tidak sama sekali,atau bahkan menjadi temannya iblis yang amat senang dengan kehancuran bagi umat manusia dan alam seperti yang dikhawatirkan para malaikat ketika Tuhan hendak menjadikan ” Khalifah ” di muka bumi ini yang keberadaannya hanyalah akan membuat ” kerusakan dan pertumpahan darah ”.

Mari kita sama-sama mewujudkan dunia yang penuh damai,dengan beragama,berkepercayaan dan berkeyakinan secara sungguh-sungguh.Landasannya adalah marilah kita sama-sama untuk menjadi MANUSIA SEJATI yang JUJUR pada DIRI SENDIRI
dan MENJADI DIRI SENDIRI……..!!.Jangan berhenti hanya sebatas dengan APA KATANYA,kata Kiayinya,kata Ustadnya,kata Gurunya,kata Kitab Sucinya,kata Hadisnya…toh tetep saja ujung-ujungnya HANYA kita SENDIRILAH yang memiliki otoritas untuk
MENTAFSIRKAN dan MEMAHAMI dari segala apa yang DIKATAKANNYA dan apa yang DIAJARKANNYA…!! hanya DIRI
KITA SENDIRI…..!!! maka JADILAH DIRI SENDIRI…karena dengan menjadi diri sendiri rasanya kita akan MENGENAL DIRI..dengan mengenal DIRI,maka tidak mustahil kita akan MENGENAL TUHAN
sang Pencipta Langit dan Bumi.Karena sesungguhnya TUHAN sudah ada dalam DIRI-KU…DIRI-MU dan DIRI-KITA….!! yang dalam khazanah Jawa disebut dengan ” LORO-LORONING SATUNGGAL ” berbilang namun hakekatnya adalah SATU...Satu yang telah DIGULUNG menjadi satu KEBERADAAN dan KENYATAAN dalam KEHENINGAN,KEHAMPAAN,KOSONG…tanpa huruf,tanpa abjad,tanpa kata-kata dan tanpa LAFDZ sekalipun…!!

(Olah Kepribadian Agoeng Deworuci,Malem Jum'at Pon 19 Maret 2015)